Saham RANS Melonjak 34% di Hari Pertama Melantai di BEI

Admin KerjabosMinggu, 12 Juli 2026 | 16:33 WIB
Saham RANS Melonjak 34% di Hari Pertama Melantai di BEI

Saham PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk (RANS) langsung menyentuh batas Auto Reject Atas (ARA) pada perdagangan perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (10/7/2026).

Harga saham perusahaan milik Raffi Ahmad dan Nagita Slavina itu melonjak 34,12% atau naik 58 poin, dari harga penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) Rp170 menjadi Rp228 per saham. Saham RANS dibuka sekaligus berada di level Rp228, yang juga menjadi harga tertinggi dan terendah di awal perdagangan.

Volume transaksi tercatat sekitar 183,95 juta saham dengan frekuensi 1.690 kali pada pukul 09.01 WIB. Antrean beli (bid) masih menyisakan lebih dari 19 juta lot pada harga Rp228, sementara tidak terdapat antrean jual (offer).

Dana IPO Rp429,25 Miliar

Melalui aksi korporasi ini, RANS melepas 2,525 miliar saham baru atau setara 20,02% dari modal ditempatkan dan disetor penuh pasca-IPO, dengan harga final Rp170 per saham. Perseroan pun berpotensi menghimpun dana segar sekitar Rp429 miliar.

Berdasarkan alokasi penggunaan dana, RANS menganggarkan sekitar 6,98% untuk pembayaran lebih awal pokok utang kepada PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Sekitar 18,64% dana dialokasikan untuk belanja modal pembangunan wahana bermain dan edukasi bernama Cipungland.

Porsi terbesar, 37,61% dana IPO, digunakan untuk belanja operasional penyelenggaraan konser di berbagai kota. Rinciannya mencakup penyelenggaraan hingga 16 konser musik lokal dan internasional.

Selain itu, 8,15% dana dipakai untuk membentuk entitas usaha baru bersama PT Feedloop Global Teknologi guna mengembangkan bisnis berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Sisanya, 19,80%, dialokasikan untuk mengakuisisi 51% saham PT Rans Kosmetika Indonesia dengan merek Slavina.

RANS menunjuk PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM) sebagai penjamin pelaksana emisi efek dalam IPO ini.

Minat Investor Tinggi

RANS resmi tercatat sebagai emiten ketujuh di BEI sepanjang 2026 dan menjadi perusahaan tercatat ke-963 di bursa tersebut. Antrean pemesanan saham RANS selama masa penawaran umum mencapai 1.092.166 single investor identification (SID).

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, mengatakan pencatatan saham RANS menjadi momentum penting tidak hanya bagi perseroan, tetapi juga bagi pasar modal Indonesia. Ia meminta perseroan terus memperkuat tata kelola perusahaan dan menjaga keterbukaan informasi secara konsisten.

Direktur Utama RANS Nagita Slavina mengatakan status sebagai perusahaan terbuka menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mengembangkan ekonomi kreatif menjadi institusi bisnis yang lebih profesional.

“Indonesia memiliki talenta kreatif yang luar biasa. Tantangan ke depan adalah mengembangkan kreativitas tersebut menjadi intellectual property yang mampu menciptakan nilai ekonomi,” ujar Nagita di Main Hall BEI, Jumat (10/7/2026).

Pendiri RANS, Raffi Ahmad, menambahkan bahwa IPO merupakan komitmen perseroan untuk tumbuh dengan standar tata kelola yang lebih tinggi. “Kepercayaan publik adalah amanah yang akan terus kami jaga melalui tata kelola yang baik dan pertumbuhan yang berkelanjutan,” kata Raffi.

Kinerja Keuangan dan Valuasi

Di balik antusiasme pasar pada hari pertama perdagangan, kinerja keuangan RANS sepanjang 2025 justru menunjukkan tren penurunan. Berdasarkan prospektus yang diterbitkan pada Selasa (23/6/2026), RANS membukukan pendapatan sebesar Rp353,38 miliar pada 2025, turun dibandingkan Rp410,49 miliar pada 2024.

Laba bersih tahun berjalan 2025 tercatat Rp56,68 miliar, turun 41,6% dari Rp97,06 miliar pada 2024. Berdasarkan riset Bareksa yang mengutip prospektus ringkas RANS per 23 Juni 2026, penurunan laba tersebut turut dipengaruhi oleh laba pelepasan entitas anak senilai Rp44,9 miliar yang tercatat sebagai transaksi tidak berulang pada 2024, sehingga mendistorsi perbandingan laba antarperiode.

Dari sisi aset, total aset perseroan pada akhir 2025 tercatat Rp461,03 miliar, turun dari posisi 2024 yang mencapai Rp590,80 miliar. Total ekuitas mencapai Rp340,80 miliar, sedangkan total liabilitas sebesar Rp120,23 miliar. Perseroan juga mencatat kas dan setara kas sebesar Rp100,13 miliar pada 2025, meningkat dibandingkan Rp91,07 miliar pada 2024.

Berdasarkan riset Bareksa, penurunan total aset dan ekuitas 2025 terutama dipicu oleh pembagian dividen senilai Rp167,5 miliar kepada pemegang saham lama, bukan berasal dari kerugian operasional. Rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio/DER) tercatat 0,35 kali, sementara current ratio berada di level 2,63 kali.

Dengan harga penawaran Rp170 per saham, valuasi price to earning ratio (PER) RANS berada di kisaran 28,33 kali hingga 37,8 kali berdasarkan laba bersih 2025, menurut perhitungan IDXChannel dan Bareksa. Adapun price to book value (PBV) tercatat 5,03 kali berdasarkan posisi keuangan per 31 Desember 2025.

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menilai prospek RANS cukup menarik karena bergerak di sektor media digital, hiburan, pengelolaan kekayaan intelektual (intellectual property/IP), dan ekosistem kreatif yang masih memiliki ruang pertumbuhan di Indonesia.

“Kekuatan utama perusahaan terletak pada kemampuan membangun audiens yang besar dan mengubahnya menjadi berbagai sumber pendapatan,” kata Alrich kepada Kontan, Selasa (23/6/2026).

Namun, Alrich juga mengingatkan investor agar tidak hanya melihat popularitas pemegang saham, melainkan turut mencermati kualitas fundamental perusahaan seperti tren pertumbuhan pendapatan dan laba, tingkat profitabilitas, serta kemampuan menghasilkan recurring income yang berkelanjutan.

“Investor disarankan untuk menempatkan RANS sebagai investasi berbasis pertumbuhan (growth investing) dan tetap mempertimbangkan profil risiko masing-masing,” jelasnya.

Latar Belakang Perusahaan

RANS merupakan perusahaan yang membangun ekosistem media, hiburan, dan pengelolaan IP, dengan empat segmen usaha utama yakni produksi dan distribusi konten media, pengelolaan IP dan aktivasi komersial, penyelenggaraan event dan konser, serta bisnis pendukung berupa produk konsumen.

Sebelum IPO, mayoritas saham RANS dimiliki oleh Raffi Farid Ahmad sebesar 78,68%. Pemegang saham lain di antaranya PT Indonesia Entertainmen Grup, anak usaha PT Surya Citra Media Tbk (SCMA), sebesar 9,04%, serta sejumlah nama publik seperti Kepala Badan Pengelola (BP) BUMN Dony Oskaria, Direktur Utama SCMA Sutanto Hartono, Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep, dan Nagita Slavina.

Pasca-IPO, kepemilikan Raffi Ahmad terdilusi menjadi 62,93%, sementara porsi saham publik mencapai 20,02%.


Seluruh informasi disajikan untuk tujuan pemberitaan dan bukan merupakan nasihat investasi maupun rekomendasi keuangan.