Trisula International bukan pemain baru di industri tekstil dan garmen Indonesia, tapi baru pada 2025 perusahaan ini mencatatkan laba tertinggi sepanjang sejarahnya, senilai Rp110,16 miliar, naik 33 persen dibanding tahun sebelumnya.
Dari Pabrik Kecil ke Emiten Tekstil
Nama Trisula mungkin lebih dikenal lewat brand seragam kantor atau pakaian kasual seperti JOBB, tapi jejak bisnisnya jauh lebih panjang dari itu. PT Trisula International Tbk, yang tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode TRIS sejak 2012, awalnya bergerak sebagai produsen tekstil dengan merek Bellini dan Caterina.
Barulah pada 1989 perusahaan ini melebarkan sayap ke industri garmen, memproduksi dan mendistribusikan pakaian bermerek ke Jepang, Amerika Serikat, Eropa, Australia, sampai Malaysia dan Singapura.
Titik penting lain terjadi pada 1994. Saat itu Trisula membangun divisi ritelnya sendiri, memperkenalkan brand JOBB, sekaligus mengantongi lisensi Jack Nicklaus dari Amerika Serikat untuk memasarkan pakaian golf di Indonesia.
Sejak itu, perusahaan yang berkantor pusat di Trisula Center, Jalan Lingkar Luar Barat, Cengkareng, Jakarta ini terus memperluas cakupan usahanya sampai membentuk apa yang sekarang dikenal sebagai Trisula Group, dengan lima anak perusahaan langsung dan sebelas anak perusahaan tidak langsung.
Menariknya, Trisula International sendiri berperan sebagai holding investasi bagi tiga perusahaan yang juga sudah melantai di bursa. Selain TRIS, ada PT Chitose Internasional Tbk (CINT) yang bergerak di bidang furnitur, dan PT Trisula Textile Industries Tbk (BELL) yang menjadi cikal bakal Trisula Corporation dan memproduksi kain untuk kebutuhan fashion maupun seragam.
Bagaimana Trisula Membagi Bisnisnya
Kalau dilihat dari struktur operasionalnya, Trisula International sebenarnya menjalankan empat segmen bisnis sekaligus. Ada segmen manufaktur yang mencakup pemintalan benang, tenun, pewarnaan, dan penyempurnaan tekstil. Ada segmen distribusi yang memasarkan produk tekstil dan garmen.
Ada pula segmen seragam korporat yang melayani perbankan, hotel, instansi pemerintah, maskapai penerbangan, sampai organisasi internasional. Terakhir, segmen ritel yang menjual produk lewat toko fisik, department store, dan platform e-commerce.
Dari keempat segmen itu, manufaktur adalah yang paling dominan. Sepanjang 2025, segmen ini menyumbang Rp1,41 triliun atau sekitar 66 persen dari total penjualan perusahaan, tumbuh 17 persen dibanding tahun sebelumnya. Yang cukup mengejutkan justru datang dari segmen seragam.
Hingga kuartal ketiga 2025 saja, penjualan segmen ini melonjak 111 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, jadi Rp234,30 miliar. Lonjakan sebesar itu biasanya menandakan ada kontrak besar baru yang masuk, meski laporan publik belum merinci dari sektor mana kontrak tersebut berasal.
Mengapa Ekspor Jadi Andalan Utama Trisula
Kalau ada satu hal yang membedakan Trisula dari banyak emiten tekstil lain di Indonesia, itu adalah ketergantungannya yang besar pada pasar ekspor. Pada 2025, penjualan ekspor menyumbang 59 sampai 60 persen dari total pendapatan perusahaan, setara sekitar Rp1,02 triliun, dengan pasar utama di Amerika Serikat, Australia, dan Jepang. Angka ini naik 13 persen dibanding tahun sebelumnya.
Ketergantungan pada ekspor ini punya dua sisi. Di satu sisi, diversifikasi pasar ke berbagai negara membuat Trisula relatif lebih tahan kalau ada tekanan ekonomi di satu kawasan tertentu saja. Manajemen Trisula sendiri menyebut strategi ini sebagai fondasi yang lebih kuat untuk menghadapi tantangan global.
Tapi di sisi lain, industri tekstil yang berorientasi ekspor juga rentan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah, kebijakan tarif dagang negara tujuan, dan pergeseran preferensi pembeli internasional.
Faktor-faktor semacam ini berada di luar kendali perusahaan, sehingga bagi investor yang mempertimbangkan saham TRIS, penting untuk melihat laporan keuangan lebih dari satu periode dan berkonsultasi dengan penasihat keuangan sebelum mengambil keputusan investasi, bukan hanya berpatokan pada pertumbuhan laba satu tahun saja.
Kinerja Keuangan Terbaru dan Aksi Korporasi
Sepanjang 2025, penjualan Trisula International tercatat Rp1,73 triliun, tumbuh 14 persen dibanding tahun sebelumnya. Pertumbuhan penjualan ini ikut mendorong laba bersih ke rekor tertinggi sepanjang sejarah perusahaan, yakni Rp110,16 miliar.
Sebagai bentuk apresiasi kepada pemegang saham, RUPS yang digelar pada 23 April 2026 menyetujui pembagian dividen final sebesar Rp31 miliar, atau sekitar Rp10 per saham, di luar dividen interim yang sudah dibagikan lebih dulu pada September 2025.
Yang menarik, tidak lama setelah pembagian dividen itu, Trisula justru mengumumkan rencana pembelian kembali atau buyback saham. Pada awal Juli 2026, perusahaan menyiapkan dana Rp15 miliar untuk membeli kembali maksimal 94 juta lembar saham, atau setara 3 persen dari total saham yang beredar, dengan batas harga tertinggi Rp170 per saham.
Buyback ini berlangsung selama tiga bulan, dari 6 Juli sampai 5 Oktober 2026, dan mengacu pada aturan Otoritas Jasa Keuangan yang mengizinkan perusahaan terbuka menstabilkan harga saham di tengah kondisi pasar modal yang berfluktuasi signifikan.
Manajemen Trisula menegaskan bahwa aksi ini tidak akan mengganggu operasional maupun pendapatan perusahaan, karena kas internal yang digunakan dinilai masih memadai. Bahkan menurut proforma per Maret 2026, laba per saham diperkirakan justru naik dari Rp5,57 menjadi Rp5,75 begitu jumlah saham beredar berkurang.
Sebagai gambaran, harga saham TRIS di Bursa Efek Indonesia sempat diperdagangkan di kisaran Rp158 sampai Rp160 pada awal Juli 2026, jauh dari level Rp183 yang pernah dicapai pada awal Februari tahun yang sama.
Yang Perlu Diperhatikan ke Depan
Bagi orang yang baru mengenal Trisula lewat berita laba rekornya, gambaran satu tahun itu memang terlihat menjanjikan. Tapi seperti kebanyakan emiten manufaktur berorientasi ekspor, performa Trisula ke depan akan sangat bergantung pada permintaan global, terutama dari pasar-pasar utamanya seperti Amerika Serikat dan Australia yang selama ini menjadi penopang penjualan luar negeri.
Perusahaan sendiri menyatakan optimismenya untuk 2026, seiring adanya order baru dari pembeli lama maupun pelanggan baru, khususnya di pasar Amerika Serikat dan Singapura.
Apakah momentum pertumbuhan laba yang terjadi sepanjang 2025 bisa berlanjut, sebagian besar akan ditentukan oleh seberapa jauh Trisula mampu menjaga diversifikasi pasar ekspornya di tengah dinamika perdagangan global yang belum tentu stabil dari tahun ke tahun.





