PT Trias Sentosa Tbk, yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia dengan kode TRST, adalah produsen film kemasan fleksibel terbesar di Indonesia. Sepanjang 2025 perusahaan ini justru mencatat rugi bersih Rp36,8 miliar, tapi tetap membagikan dividen tunai Rp5 per saham kepada pemegang sahamnya.
Kombinasi itu terdengar janggal buat orang yang baru pertama kali melihat laporan keuangannya. Rugi kok bagi-bagi uang ke investor? Jawabannya ada di neraca perusahaan, dan itu akan dibahas lebih jauh di bagian belakang artikel ini. Tapi sebelum sampai ke sana, ada baiknya mengenal dulu siapa sebenarnya Trias Sentosa dan kenapa perusahaan ini layak diperhitungkan di sektor kemasan plastik nasional.
Siapa Sebenarnya Trias Sentosa Tbk
Perusahaan ini berdiri pada 23 November 1979 lewat akta notaris Gde Ngurah Rai. Operasi komersialnya baru dimulai tujuh tahun kemudian, tepatnya 1986, dan perusahaan resmi melantai di bursa pada 2 Juli 1990. Artinya, TRST sudah lebih dari tiga dekade jadi salah satu emiten sektor kemasan yang bertahan di IDX, melewati krisis moneter 1998, krisis finansial global, sampai pandemi.
Bisnis intinya sederhana untuk dijelaskan tapi rumit secara teknis, yaitu memproduksi film plastik jenis BOPP (biaxially oriented polypropylene) dan BOPET (biaxially oriented polyester). Kedua jenis film ini jadi bahan baku kemasan untuk hampir semua barang konsumsi yang dijumpai sehari-hari. Bungkus rokok, kemasan es krim, label produk, pembungkus permen, sampai lapisan pelindung kotak makanan ringan, semuanya kemungkinan besar memakai film buatan pabrik seperti milik TRST.
Pabrik utamanya berlokasi di dua titik di Sidoarjo, Jawa Timur, yaitu Jalan Raya Waru 1B dan Desa Keboharan Km 26, Krian. Selain itu, lewat anak usahanya di Singapura, Astria Packaging Pte Ltd, TRST juga mengoperasikan pabrik di Tianjin, China, bernama Tianjin Sunshine Plastics Co Ltd. Kapasitas produksi gabungan perusahaan mencapai sekitar 67 ribu metrik ton per tahun untuk BOPP dan 30 ribu metrik ton per tahun untuk BOPET.
Siapa Pemilik dan Pengendali TRST
Struktur kepemilikan TRST cukup terkonsentrasi di beberapa entitas. Berdasarkan data kepemilikan saham lebih dari 5 persen, PT K and L Capital memegang porsi terbesar sekitar 26,6 persen, disusul PT Adilaksa Manunggal dengan 17,91 persen, kemudian PT KL Trio dan PT Prima Polycon Indah masing-masing di kisaran 5 sampai 7,7 persen. Sisanya, sekitar setengah dari total saham, dipegang oleh publik.
Pemilik manfaat sebenarnya atau ultimate beneficial owner dari jaringan kepemilikan ini, berdasarkan data Administrasi Hukum Umum, adalah Kindarto Kohar, yang juga menjabat sebagai Komisaris Utama perusahaan. Di jajaran direksi, posisi Direktur Utama dipegang oleh Hananto, didampingi Silvester Terisno dan Nani Tina Asmara sebagai direktur. Sementara di jajaran komisaris, ada Sugeng Kurniawan dan Ketut Sumarwan yang menjabat sebagai komisaris independen sekaligus ketua komite audit.
Menariknya, data perdagangan saham di bursa menunjukkan pola akumulasi yang cukup konsisten dari salah satu pemegang saham utama, PT Prima Polycon Indah, yang tercatat rutin menambah kepemilikannya dalam jumlah kecil hampir setiap hari perdagangan sepanjang pertengahan 2026. Pola semacam ini biasa dibaca pelaku pasar sebagai sinyal keyakinan pihak dalam terhadap prospek jangka panjang perusahaan, meski tentu saja bukan jaminan pergerakan harga saham ke depan.
Kenapa TRST Rugi di 2025 Tapi Tetap Bagi Dividen
Ini bagian yang paling sering bikin bingung investor baru. Berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2025, TRST mencatat rugi bersih yang diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp36,83 miliar. Penyebab utamanya bukan dari operasional pabrik yang buruk, melainkan kerugian selisih kurs alias forex loss yang tidak terealisasi, senilai sekitar Rp49 miliar, akibat pelemahan euro terhadap dolar Amerika Serikat.
Justru dari sisi operasional, kinerja TRST sepanjang 2025 sebenarnya tumbuh. Pendapatan perusahaan naik dari Rp3,42 triliun pada 2024 menjadi Rp3,74 triliun pada 2025. Penurunan harga bahan baku resin global ikut mendongkrak laba kotor menjadi Rp427 miliar, sementara EBITDA melonjak 24,25 persen secara tahunan menjadi Rp497 miliar. Jadi rugi bersih yang muncul di baris paling bawah laporan laba rugi itu lebih mencerminkan risiko nilai tukar ketimbang gagalnya bisnis inti perusahaan.
Soal dividen, jawabannya ada di saldo laba ditahan. Meski rugi tahun berjalan, TRST masih memiliki saldo laba ditahan yang tidak dibatasi penggunaannya sebesar Rp1,09 triliun, dengan total ekuitas mencapai Rp2,71 triliun. Dividen tunai Rp5 per saham senilai total Rp14,04 miliar yang disetujui dalam RUPST 30 Juni 2026 itu diambil dari cadangan laba tahun-tahun sebelumnya, bukan dari laba tahun berjalan yang justru negatif. Kalau dihitung, nilai dividen itu cuma sekitar 1,28 persen dari total saldo laba ditahan, jadi tergolong kecil dibanding cadangan yang tersedia.
Bagaimana Kinerja TRST di Awal 2026
Kalau 2025 diwarnai kerugian akibat forex, situasinya berbalik cukup drastis begitu masuk kuartal pertama 2026. Penjualan TRST pada kuartal I-2026 tercatat Rp970,46 miliar, tumbuh 15,13 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp842,90 miliar. Yang lebih mencolok, laba bersih kuartal I-2026 melesat menjadi Rp27,85 miliar, berbalik dari rugi Rp15,20 miliar pada kuartal I-2025.
Komisaris TRST, Sugeng Kurniawan, mengungkapkan bahwa laba usaha perusahaan bahkan melonjak 526 persen secara tahunan pada kuartal pertama tahun ini. Salah satu pemicunya cukup tidak biasa, yaitu kelangkaan pasokan produk impor sejenis di pasar domestik yang justru dimanfaatkan TRST untuk mengisi kekosongan permintaan. Ditambah lagi, harga minyak mentah dunia yang melandai ke kisaran 70 dolar AS per barel pada kuartal II-2026 turut meredakan tekanan harga bahan baku plastik di tingkat hulu.
Strategi kontrak jangka panjang dengan porsi 60 sampai 70 persen dari total volume penjualan juga membantu TRST menjaga stabilitas produksi di tengah fluktuasi permintaan pasar. Manajemen sendiri menargetkan pertumbuhan pendapatan di level high single digit sepanjang 2026, dengan mengandalkan penguatan pasar ekspor kalau pasar domestik cenderung stagnan.
Bagaimana Posisi TRST di Pasar Ekspor
Salah satu hal yang jarang dibahas tuntas soal TRST adalah seberapa besar sebenarnya ketergantungan perusahaan pada pasar luar negeri. Kontribusi ekspor terhadap total penjualan TRST tumbuh dari 39 persen pada 2024 menjadi 41 persen pada 2025. Negara tujuan ekspornya cukup beragam, mulai dari Amerika Serikat, Jepang, Thailand, Australia, China, Malaysia, Korea Selatan, sampai Vietnam.
Tahun ini, manajemen berencana menjaga kontribusi ekspor tetap di kisaran 40 persen, sambil menjajaki ekspansi ke pasar Eropa. Alasan di balik strategi ini cukup masuk akal kalau melihat konteks yang lebih luas. Rupiah yang cenderung melemah terhadap dolar AS membuat penjualan ekspor jadi semacam bantalan alami buat perusahaan, karena pendapatan dalam dolar otomatis bernilai lebih tinggi kalau dikonversi ke rupiah.
Tapi strategi memperbesar porsi ekspor bukan tanpa risiko. Justru fluktuasi kurs euro terhadap dolar yang jadi biang kerugian nonoperasional TRST di 2025 menunjukkan bahwa eksposur ke mata uang asing itu pedang bermata dua. Kalau kurs bergerak menguntungkan, laba bisa terdongkrak. Tapi kalau bergerak sebaliknya, kerugian selisih kurs bisa muncul meski operasional pabrik berjalan normal.
Tantangan Apa yang Dihadapi TRST di Pasar Domestik
Di sisi lain, pasar dalam negeri punya cerita berbeda. Berdasarkan keterangan manajemen, tantangan terbesar TRST di pasar domestik adalah serbuan produk impor sejenis dengan selisih harga yang bisa mencapai 5 sampai 10 persen lebih murah. Kondisi ini membuat TRST kesulitan bersaing dari sisi harga kalau ingin tetap mempertahankan margin laba dan kemampuan investasi jangka panjang.
Manajemen bahkan menyebut bahwa rata-rata setiap bulan ada volume barang impor yang masuk setara dengan kapasitas satu mesin besar di pabrik mereka sendiri. Artinya, Indonesia kerap dijadikan pasar buang oleh eksportir dari negara lain, dan itu ikut menekan permintaan terhadap produk buatan TRST di dalam negeri. Karena itu, manajemen menilai pertumbuhan single digit di pasar domestik saja sudah dianggap pencapaian yang cukup baik, mengingat tekanan kompetisi harga yang berat.
TRST Dibandingkan dengan Kondisi Industrinya Secara Umum
Sebagai gambaran konteks yang lebih luas, Indeks Kepercayaan Industri nasional tercatat masih ekspansif di level 51,75 pada April 2026, yang menandakan sektor manufaktur Indonesia secara umum masih bertahan meski dibayangi tekanan biaya energi. Kondisi ini relevan buat TRST karena industri kemasan sangat bergantung pada pertumbuhan sektor makanan, minuman, dan barang konsumsi yang jadi pengguna utama produk film plastiknya.
Selama sektor FMCG terus tumbuh, permintaan terhadap kemasan fleksibel biasanya ikut naik, karena hampir semua produk konsumsi butuh solusi kemasan yang efisien dan tahan lama. Ini yang membuat TRST, meski sempat tersandung kerugian nonoperasional, tetap dipandang punya fundamental operasional yang relatif tahan banting dibanding fluktuasi jangka pendek nilai tukar.
Yang Perlu Diperhatikan Investor Sebelum Masuk ke Saham TRST
Buat yang mempertimbangkan TRST sebagai opsi investasi, ada beberapa hal yang layak dicermati. Pertama, volatilitas laba bersih TRST cukup tinggi karena eksposur terhadap risiko nilai tukar, bukan cuma pada risiko operasional biasa seperti harga bahan baku atau volume penjualan. Kedua, kebijakan dividen perusahaan tampaknya tidak terlalu terikat ketat pada laba tahun berjalan, mengingat cadangan laba ditahan yang besar memungkinkan pembagian dividen bahkan di tahun rugi.
Ketiga, tren pemulihan kinerja di kuartal I-2026 memang menjanjikan, tapi faktor pendorongnya sebagian berasal dari kondisi eksternal yang sifatnya sementara, seperti kelangkaan pasokan impor dan pelandaian harga minyak dunia. Perlu dilihat lebih lanjut apakah momentum ini bisa bertahan sampai akhir tahun atau cuma efek musiman yang sewaktu-waktu bisa berbalik arah.
Perlu dicatat bahwa artikel ini bersifat informasi umum, bukan rekomendasi jual beli saham. Keputusan investasi sebaiknya mempertimbangkan riset lebih mendalam dan profil risiko masing-masing individu.
FAQ
Apakah TRST perusahaan milik asing atau lokal?
TRST adalah perusahaan lokal Indonesia dengan pengendali utama Kindarto Kohar, meski produknya dipasarkan secara global dan memiliki anak usaha produksi di Tianjin, China.
Kapan jadwal pembayaran dividen TRST tahun buku 2025?
Berdasarkan jadwal yang disetujui dalam RUPST 30 Juni 2026, cum dividend di pasar reguler jatuh pada 8 Juli 2026, dan pembayaran dividen dijadwalkan pada 27 Juli 2026.
Apa bedanya BOPP dan BOPET yang diproduksi TRST?
BOPP (biaxially oriented polypropylene) umumnya dipakai untuk kemasan makanan ringan dan pembungkus rokok, sementara BOPET (biaxially oriented polyester) lebih sering dipakai untuk aplikasi yang butuh ketahanan panas dan barrier lebih tinggi, seperti laminasi dan label produk premium.





