RANS Entertainment Resmi IPO, Ini Perjalanan Bisnisnya

Admin KerjabosMinggu, 12 Juli 2026 | 16:24 WIB
Mengenal RANS Entertainment Sebelum Beli Sahamnya
Mengenal RANS Entertainment Sebelum Beli Sahamnya

Sebuah kanal YouTube yang dulu cuma dipakai Raffi Ahmad dan Nagita Slavina untuk merekam momen keluarga, kini resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham RANS, lengkap dengan taman bermain, lini kosmetik, dan rencana bisnis kecerdasan buatan.

Kalau sepuluh tahun lalu ada yang bilang konten harian pasangan selebritas ini bakal berujung pada pencatatan saham, mungkin banyak yang menganggapnya lelucon. Tapi itulah yang terjadi pada 10 Juli 2026 lalu.

PT RANS Entertainment Indonesia Tbk resmi melakukan IPO dengan kode saham RANS di Bursa Efek Indonesia, menawarkan 2,525 miliar saham baru atau sekitar 20 persen dari modal disetor penuh dengan harga Rp170 per saham, mengumpulkan dana sekitar Rp429,25 miliar. Raffi dan Nagita bahkan hadir langsung bersama keluarga di gedung BEI saat momen pencatatan itu berlangsung.

Buat yang selama ini cuma tahu RANS dari video JajaRANS atau daily vlog di YouTube, perjalanan sampai ke titik ini sebenarnya cukup panjang dan berlapis.

Bagaimana RANS Entertainment Bermula

RANS Entertainment didirikan pada 27 Desember 2015 sebagai kanal YouTube dan rumah produksi milik Raffi Ahmad dan Nagita Slavina. Nama RANS sendiri bukan singkatan yang dicari-cari, itu murni gabungan inisial dua nama pendirinya. Raffi Ahmad di depan, Nagita Slavina di belakang.

Yang menarik, alasan awal mereka memilih YouTube bukan soal strategi bisnis. Nagita merasa lebih bebas berekspresi lewat YouTube dibanding televisi, sementara tujuan awal Raffi sekadar ingin mengabadikan momen bersama keluarga. Dari niat sesederhana itu, kanal ini pelan-pelan tumbuh jadi salah satu yang paling ditonton di Indonesia.

Secara legal, perusahaan ini sempat berganti nama beberapa kali. Awalnya bernama PT RNR Film Internasional, baru berubah menjadi PT Rans Entertainmen Indonesia yang efektif pada 7 Juli 2021. Soal kapan bisnisnya mulai berjalan secara komersial, perseroan tercatat mulai beroperasi secara komersial pada 2018, berkedudukan di Jalan Kemang, Jakarta Selatan, sebelum akhirnya pindah kantor pusat ke kawasan BSD, Tangerang Selatan.

Kalau ditelusuri lebih jauh, struktur kepemimpinannya juga tidak sesederhana yang dibayangkan orang. Nagita menjabat sebagai CEO sekaligus Founder, sedangkan Raffi mengisi posisi Chairman dan Founder. Pada 2021, dua nama baru masuk ke jajaran petinggi, Sutanto Hartono sebagai Executive Chairman dan Kaesang Pangarep di posisi Komisaris.

Kenapa Bisnisnya Bisa Melebar ke Mana-mana

Dari satu kanal YouTube, RANS kini bukan lagi sekadar rumah produksi konten. Kalau dilihat dari daftar kegiatan usaha di akta perusahaan terbaru, cakupannya mencakup reproduksi rekaman suara dan film, produksi hingga distribusi film dan video, aktivitas periklanan, sampai konsultasi manajemen bisnis.

Yang paling terasa buat penonton awam mungkin justru konten hariannya sendiri. Ada segmen daily vlog yang menampilkan keseharian Raffi dan Nagita, ada JajaRANS yang isinya wisata kuliner UMKM, dan ada RANS Music tempat Nagita berduet dengan penyanyi-penyanyi ternama. Selain konten, pasangan ini juga merambah dunia film lewat RA Pictures dan animasi lewat RANS Animation Studio.

Bisnisnya tidak berhenti di ranah hiburan digital saja. Di sektor olahraga, mereka mengakuisisi klub sepak bola yang kemudian dikenal sebagai RANS Nusantara FC, lalu mendirikan tim esports RANS Glory untuk PUBG yang belakangan diperluas ke Free Fire. Di sisi lain, ada juga lini fashion NASL by Nagita Slavina dan Mylk by Rafathar, sampai bisnis kecantikan RANS Beauty yang produknya bisa ditemukan di gerai retail besar seperti Guardian dan Beautyhaul.

Kalau semua lini bisnis ini didaftar satu per satu, memang terasa seperti octopus bisnis yang menyebar tanpa arah. Tapi kalau dibaca dari sudut pandang strategi, semuanya sebenarnya bertumpu pada satu aset utama, yaitu popularitas personal Raffi dan Nagita sebagai magnet audiens.

Mengapa RANS Memutuskan Melantai di Bursa Saham

Pertanyaan yang paling sering muncul soal langkah IPO ini adalah, kenapa perusahaan yang sudah punya pendapatan dari konten dan sponsor masih perlu menghimpun dana publik. Jawabannya ada di rencana penggunaan dana yang tertuang dalam prospektus.

Sebagian dana IPO, sekitar 7 persen, akan dipakai untuk melunasi lebih awal utang ke Bank BNI. Porsi paling besar, mencapai sekitar 37,61 persen, dialokasikan untuk belanja operasional penyelenggaraan konser yang mengundang artis lokal maupun internasional di berbagai kota di Indonesia.

Sisanya dibagi untuk ekspansi taman bermain edukatif bernama Cipungland, pembentukan usaha patungan di bidang kecerdasan buatan bersama Feedloop, serta akuisisi saham di lini kosmetik Slavina.

Dari sisi jadwal, masa penawaran umum RANS berlangsung mulai 2 Juli hingga 8 Juli 2026, dilanjutkan penjatahan saham pada 8 Juli, distribusi elektronik pada 9 Juli, dan pencatatan resmi di BEI pada 10 Juli 2026. Soal siapa pemegang saham terbesarnya, Raffi Ahmad tercatat sebagai pemegang saham mayoritas dengan porsi 78,68 persen atau setara 7.935.000.000 lembar saham.

Yang perlu dicatat, harga penawaran saham ini sempat bergerak dari kisaran awal ke angka final. Masa book building berlangsung pada 23 sampai 25 Juni 2026 dengan kisaran harga penawaran Rp135 hingga Rp170 per saham, dan pada akhirnya perusahaan menetapkan harga di batas atas, Rp170 per saham.

Apa yang Perlu Diketahui Sebelum Menilai Prospeknya

Di sinilah bagian yang sering luput dari pemberitaan seputar hype selebritas. Kalau melihat angka keuangan, performa RANS di tahun 2025 sebenarnya justru sedang menurun, bukan naik. Revenue tercatat turun 13,91 persen dan laba bersih anjlok 41,6 persen, karena biaya ekspansi ekosistem baru seperti Cipungland, AI, dan Slavina meningkat, sementara monetisasi dari lini-lini tersebut belum berjalan penuh.

Dengan harga penawaran Rp170 per saham dan laba bersih 2025 yang tercatat, valuasi perusahaan ini berada di kisaran yang cukup tinggi untuk ukuran perusahaan media. Kapitalisasi pasar pasca-IPO diperkirakan mencapai Rp1,70 sampai Rp2,14 triliun, setara dengan rasio harga terhadap laba di kisaran 30 sampai 38 kali. Angka semacam ini biasanya lebih lazim ditemukan pada saham perusahaan teknologi yang sedang bertumbuh cepat, bukan perusahaan media dengan laba yang justru sedang melambat.

Ini bukan berarti bisnisnya sedang gagal. Penurunan laba lebih mencerminkan fase investasi, di mana perusahaan sedang menanam modal ke lini-lini baru yang belum menghasilkan pendapatan signifikan. Tapi bagi siapa pun yang berminat membeli sahamnya, penting untuk memahami bahwa sebagian besar bisnis RANS bersifat proyek per proyek, sehingga visibilitas pendapatan ke depan tidak selalu pasti. Ada baiknya berkonsultasi dengan penasihat investasi atau mempelajari prospektus resmi secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan, mengingat setiap investasi saham tetap mengandung risiko fluktuasi harga.

Menariknya, penjamin emisi IPO ini, Trimegah Sekuritas, punya rekam jejak menangani beberapa IPO yang melonjak tajam di hari pertama listing. Tapi rekam jejak semacam itu tentu tidak bisa dijadikan jaminan bahwa saham RANS akan mengikuti pola yang sama.

Dari kanal YouTube yang lahir dari kebiasaan merekam momen keluarga, RANS Entertainment kini jadi entitas dengan sebelas anak perusahaan dan empat entitas asosiasi, sekaligus objek yang diperhatikan pelaku pasar modal. Cerita ini mungkin akan terus berkembang, terutama ketika publik mulai menilai apakah popularitas personal Raffi dan Nagita benar-benar bisa diterjemahkan jadi kinerja keuangan yang stabil di tahun-tahun mendatang.