Profil Trimegah Sekuritas, dari Rintisan 1990 ke Papan Atas

Admin KerjabosSenin, 13 Juli 2026 | 19:19 WIB
Mengenal Trimegah Sekuritas, Sekuritas Tertua yang Masih Bertahan
Mengenal Trimegah Sekuritas, Sekuritas Tertua yang Masih Bertahan

Trimegah Sekuritas adalah salah satu perusahaan sekuritas tertua di Indonesia yang kini dikendalikan oleh Garibaldi “Boy” Thohir, mencatat lonjakan laba bersih 128 persen pada 2025 menjadi Rp593,5 miliar, dan tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham TRIM.

Nama Trimegah mungkin sudah akrab di telinga orang yang biasa memantau pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan, entah karena pernah membuka rekening di sana, entah karena sering melihat kodenya muncul di berita soal penjaminan emisi saham baru.

Tapi buat yang baru mulai tertarik pada dunia pasar modal, wajar kalau nama ini terasa asing di antara deretan sekuritas yang jauh lebih sering muncul di iklan media sosial. Padahal usia perusahaan ini sudah lebih dari tiga dekade, jauh lebih tua dari sebagian besar aplikasi trading saham yang ramai dipakai anak muda sekarang.

Bagaimana Trimegah Bermula dan Berkembang

PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk didirikan pada tahun 1990 dan berkantor pusat di Jakarta. Perusahaan ini awalnya dikenal dengan nama yang lebih sederhana, PT Trimegah Securities Tbk.

Nama itu baru berganti menjadi PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk pada Juli 2016. Pergantian ini bukan sekadar kosmetik, melainkan bagian dari upaya menegaskan identitas sebagai institusi keuangan nasional, di tengah makin banyaknya sekuritas asing yang masuk ke Indonesia.

Sejak awal berdiri, bisnis inti Trimegah selalu berputar di tiga area yang saling melengkapi. Perusahaan ini bergerak di bidang perantara pedagang efek, penjaminan emisi efek, dan kegiatan manajemen investasi.

Gampangnya begini. Trimegah adalah tempat orang membeli dan menjual saham lewat broker, sekaligus pihak yang membantu perusahaan lain melantai di bursa lewat proses IPO, dan juga mengelola dana investasi untuk nasabah yang tidak mau repot memilih saham sendiri.

Yang membuat Trimegah cukup dikenal di kalangan pelaku pasar bukan cuma soal usia, tapi rekam jejaknya sebagai penjamin emisi. Baru-baru ini saja, perusahaan ini bertindak sebagai penjamin emisi untuk IPO PT Nitrasanata Dharma Tbk, pengelola jaringan JEC Eye Hospitals & Clinics, dengan target dana hingga Rp683,18 miliar.

Reputasi semacam ini tidak datang tiba-tiba. Ia hasil dari puluhan tahun membangun jaringan dengan emiten dan investor institusi.

Siapa yang Mengendalikan Trimegah Sekarang

Kalau ditanya siapa pemilik Trimegah hari ini, jawabannya mengarah ke satu nama besar di dunia bisnis Indonesia. Garibaldi Thohir, yang akrab disapa Boy Thohir, resmi menjadi pemegang saham pengendali baru PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk pada 2 Maret 2022.

Sosok ini tidak asing bagi yang mengikuti berita bisnis nasional. Ia adalah Presiden Direktur Adaro Energy dan juga kakak kandung dari Menteri BUMN Erick Thohir.

Proses pengambilalihan itu sendiri berjalan cukup panjang. Rencana akuisisi mulai terungkap pada Oktober 2021, ketika konsorsium yang dipimpin Boy Thohir mulai bernegosiasi dengan pemegang saham pengendali lama, Advance Wealth Finance Ltd, yang saat itu menguasai 49,23 persen saham TRIM.

Setelah melalui proses uji kelayakan dari regulator, Boy Thohir akhirnya merampungkan pembelian 2,46 miliar saham senilai Rp470,37 miliar, setara 34,64 persen dari total saham Trimegah, pada Maret 2022.

Menariknya, kepemilikan itu terus bertambah seiring waktu, bukan cuma diam di angka awal. Pada November 2025, Boy Thohir kembali membeli tambahan 3.146.700 saham TRIM, sehingga kepemilikan langsungnya naik menjadi 34,68 persen.

Bila digabung dengan kepemilikan tidak langsung lewat perusahaan terafiliasi, total kepemilikannya mencapai 35,81 persen. Pola penambahan kepemilikan semacam ini biasanya dibaca pelaku pasar sebagai sinyal keyakinan pengendali terhadap prospek perusahaan yang dipegangnya, meski tentu saja itu bukan jaminan mutlak arah harga saham ke depan.

Kinerja Keuangan yang Melonjak di 2025

Bagian yang paling menarik perhatian dari Trimegah belakangan ini justru soal angka. Sepanjang 2025, perusahaan membukukan laba bersih sebesar Rp593,5 miliar, jauh melonjak dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya Rp259,8 miliar.

Kalau dihitung persentase, kenaikan tersebut mencapai 128,35 persen. Ini lompatan yang tidak biasa untuk perusahaan sekuritas seukuran Trimegah dalam satu tahun.

Lonjakan laba itu otomatis mendongkrak nilai yang dinikmati per lembar saham. Data Bursa Efek Indonesia mencatat laba per saham naik dari Rp36,55 pada 2024 menjadi Rp83,48 pada penutupan 2025.

Beberapa indikator profitabilitas lain juga ikut terangkat. Margin laba bersih perusahaan tercatat di angka 35,3 persen, dengan margin EBITDA mencapai 52,2 persen dan margin kotor 80,9 persen.

Angka-angka itu menunjukkan efisiensi operasional cukup terjaga. Meski begitu, volatilitas pasar modal tetap jadi faktor yang sulit diprediksi dari tahun ke tahun.

Pencapaian ini turut diakui lewat penghargaan dari kalangan industri. Trimegah menerima Most Trusted Financial Brands Awards 2026 di Jakarta pada akhir Maret 2026, sebagai bentuk apresiasi atas kepercayaan publik yang berhasil dibangun perusahaan di industri pasar modal.

Meski begitu, performa satu tahun yang cemerlang tidak selalu berarti tren itu akan berlanjut linear. Bisnis sekuritas sangat bergantung pada gairah transaksi di bursa, yang naik turunnya dipengaruhi banyak faktor eksternal mulai dari suku bunga sampai sentimen global.

Kalau dilihat lebih dekat ke kuartal-kuartal terbaru, terlihat bahwa performa Trimegah tidak selalu bergerak naik terus. Laba bersih pada kuartal terakhir tercatat 136,98 miliar rupiah, turun dari kuartal sebelumnya yang mencapai 220,98 miliar rupiah.

Fluktuasi semacam ini wajar terjadi di industri sekuritas. Pendapatan dari komisi transaksi dan penjaminan emisi sangat tergantung pada aktivitas pasar yang memang naik turun setiap periode.

Skala Bisnis dan Posisi di Pasar

Untuk gambaran ukuran perusahaan, Trimegah tercatat memiliki 315 karyawan per pertengahan Juni 2026. Jumlah ini tergolong ramping untuk perusahaan sekuritas dengan rekam jejak sepanjang itu.

Kapitalisasi pasarnya berada di kisaran Rp3,87 triliun. Dari sisi struktur saham, jumlah saham beredar Trimegah tercatat 7.109.300.000 lembar, dengan komposisi kepemilikan 85,87 persen oleh investor domestik dan 14,13 persen oleh investor asing.

Di luar bisnis brokerage dan penjaminan emisi, Trimegah juga punya sayap pengelolaan investasi yang berjalan cukup aktif. Lewat unit manajer investasinya, perusahaan mengelola reksa dana dan kontrak pengelolaan dana untuk nasabah institusi seperti asuransi dan dana pensiun.

Cakupannya meliputi berbagai kelas aset, mulai dari saham, campuran, pendapatan tetap, hingga pasar uang. Diversifikasi semacam ini membuat pendapatan Trimegah tidak melulu bergantung pada ramai atau sepinya transaksi harian di lantai bursa saja.

Bagi investor ritel yang penasaran ingin memakai jasa Trimegah untuk transaksi saham, satu hal yang perlu diketahui adalah kebijakan dividennya. TRIM tercatat tidak membagikan dividen kepada pemegang saham publik secara rutin, meski pada laporan lain disebutkan adanya rencana pembagian dividen tunai tahun buku 2025 dalam jumlah simbolis.

Bagi yang mempertimbangkan investasi di saham TRIM, ada baiknya berkonsultasi lebih dulu dengan penasihat keuangan berizin OJK. Kebijakan dividen dan pergerakan harga saham sekuritas cenderung fluktuatif dan bergantung pada dinamika pasar modal secara keseluruhan.

Ke Mana Arah Trimegah Selanjutnya

Memasuki 2026, manajemen Trimegah tampaknya tidak ingin berpuas diri dengan capaian tahun sebelumnya. Perusahaan mengarahkan fokus strategisnya pada perluasan basis nasabah ritel, dengan mengoptimalkan aplikasi Trima+ untuk meningkatkan volume transaksi di pasar modal.

Langkah ini masuk akal mengingat tren investor ritel di Indonesia terus bertambah setiap tahun. Perusahaan sekuritas mana pun yang ingin bertahan lama mau tidak mau harus merebut perhatian generasi investor baru yang lebih akrab dengan aplikasi ketimbang datang langsung ke kantor cabang.

Pengembangan itu juga menyasar stabilitas platform perdagangan daring untuk berbagai instrumen. Ini mencakup penyempurnaan sistem transaksi saham, reksadana, hingga obligasi ritel.

Arah ini menunjukkan Trimegah sedang berusaha mengubah citra. Dari sekuritas yang selama ini lebih dikenal kuat di segmen institusi dan investment banking, menjadi pemain yang juga kompetitif di pasar ritel yang jauh lebih ramai dan lebih cepat berubah seleranya.

Yang jelas, perjalanan Trimegah dari sekuritas rintisan tahun 1990 sampai menjadi entitas yang kini berada di bawah kendali salah satu konglomerat besar Indonesia menunjukkan bagaimana industri pasar modal domestik terus bertransformasi.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi soal apakah Trimegah bisa bertahan, sebab rekam jejak lebih dari tiga dekade sudah menjawab itu. Melainkan apakah strategi digitalisasi dan ekspansi ke ritel yang sedang digarap akan cukup kuat menghadapi persaingan sekuritas berbasis aplikasi yang semakin padat setiap tahunnya.