Profil Triniti Land, Pengembang di Balik Sequoia Hills

Admin KerjabosSenin, 13 Juli 2026 | 07:11 WIB
Profil Triniti Land, Pengembang di Balik Sequoia Hills
Profil Triniti Land, Pengembang di Balik Sequoia Hills

PT Perintis Triniti Properti Tbk adalah pengembang properti asal Tangerang Selatan yang dikenal lewat merek Triniti Land, dan namanya belakangan makin sering muncul di layar pergerakan saham karena harganya melonjak ratusan persen dalam hitungan bulan.

Bagi yang baru dengar nama ini, wajar kalau bertanya-tanya, perusahaan macam apa sebenarnya TRIN, dan kenapa tiba-tiba jadi ramai dibicarakan. Jawabannya ada dua sisi. Di satu sisi ada bisnis properti yang sudah berjalan sejak 2009 dengan proyek-proyek nyata.

Di sisi lain ada cerita pasar modal yang penuh gejolak, mulai dari suspensi berkali-kali sampai masuknya sosok dari keluarga Presiden Prabowo Subianto sebagai pemegang saham baru.

Dari Ubud Village ke Sequoia Hills, Bagaimana Triniti Land Membangun Bisnisnya

Triniti Land memulai langkahnya sebagai pengembang properti pada 2009 lewat proyek Ubud Village. Perjalanannya kemudian berkembang cukup jauh dari titik itu. Perusahaan yang berkantor pusat di Tangerang Selatan ini bergerak di dua lini utama, pengembangan real estate serta jasa layanan dan pemasaran properti.

Bisnis intinya mencakup pengembangan properti residensial dan mixed-use, termasuk jual beli, operasional, sewa, dan penjualan gedung apartemen, ditambah layanan pemasaran properti untuk pihak lain.

Sejak 2014, portofolio proyeknya mulai bertambah luas. Perusahaan mengembangkan proyek-proyek yang lebih besar seperti Marc’s Boulevard di Batam, Collins Boulevard di Serpong, gedung SOHO bernama The Smith, dan apartemen Brooklyn di Alam Sutera, BSD. Nama-nama proyek ini yang kemudian dikenal cukup luas di kalangan pembeli properti kawasan Jabodetabek dan Batam.

Kalau bicara skala, angka yang sering disebut cukup besar. Sejauh ini Triniti Land tercatat sudah mengembangkan proyek senilai sekitar Rp9 triliun, dengan total sekitar 7.000 unit residensial dan komersial, serta masih menyimpan cadangan lahan pengembangan seluas 100 hektare untuk proyek-proyek berikutnya.

Salah satu proyek yang paling banyak menopang penjualan belakangan ini adalah Sequoia Hills di Sentul, kawasan hunian yang menyasar segmen keluarga muda dengan gross development value yang disebut mencapai sekitar Rp13,2 triliun dalam perhitungan jangka panjang.

Selain proyek residensial, perusahaan juga memiliki jaringan bisnis yang lebih luas lewat anak usahanya. Salah satunya PT Triniti Dinamik Tbk dengan kode saham TRUE, yang ikut mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia dan pergerakannya kerap sejalan dengan induknya.

Kenapa Kinerja Keuangan TRIN Berbalik dari Rugi Jadi Untung

Perubahan yang menarik perhatian pelaku pasar bukan cuma soal ekspansi proyek, tapi juga soal pembalikan kinerja keuangan. Pada sembilan bulan pertama 2024, perusahaan ini masih mencatatkan rugi bersih. Setahun kemudian, situasinya berubah cukup drastis.

Sampai kuartal ketiga 2025, TRIN membukukan laba bersih yang bisa diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Perbaikan ini didorong kombinasi efisiensi biaya dan pertumbuhan pendapatan lain, bukan cuma dari penjualan properti semata. Perusahaan juga mencatat pra-penjualan atau marketing revenue yang cukup signifikan sepanjang tahun berjalan, dengan target menembus Rp1,8 triliun hingga penghujung 2025.

Cerita seperti ini di pasar saham sering disebut sebagai kisah turnaround, ketika perusahaan yang tadinya merugi berhasil keluar dari zona minus dan biasanya diikuti penyesuaian valuasi saham. Pertanyaannya, apakah lonjakan harga saham TRIN benar-benar mencerminkan perbaikan fundamental itu, atau ada faktor lain yang lebih dominan.

Bagaimana Harga Saham TRIN Bisa Melonjak Ribuan Persen dalam Setahun

Di sinilah bagian yang paling banyak dibicarakan. Sepanjang 2025, harga saham TRIN mengalami kenaikan yang jauh di luar kebiasaan pergerakan saham properti pada umumnya. Dari harga sekitar Rp112 di awal Januari 2025, sahamnya sempat melonjak lebih dari lima ratus persen secara year to date pada pertengahan tahun, dan terus melaju sampai mencatat kenaikan lebih dari sembilan ratus persen dalam periode tiga bulan menjelang akhir tahun.

Lonjakan setajam ini otomatis menarik perhatian otoritas bursa. Bursa Efek Indonesia mencatat saham TRIN sempat masuk radar Unusual Market Activity pada awal Oktober 2025, lalu mendapat surat suspensi sebanyak tiga kali sepanjang tahun tersebut.

Suspensi paling signifikan terjadi pada 21 November 2025, ketika BEI menghentikan sementara perdagangan saham TRIN beserta warannya di seluruh pasar karena kenaikan harga kumulatif yang dinilai tidak wajar. Tujuannya sederhana, memberi jeda bagi investor untuk mempertimbangkan keputusan investasi dengan lebih matang sebelum kembali bertransaksi.

Suspensi itu baru dibuka kembali pada 2 Desember 2025, dan begitu perdagangan berjalan lagi, harga saham TRIN langsung melanjutkan tren naiknya. Menariknya, tanggal pembukaan suspensi ini nyaris berbarengan dengan babak baru dalam struktur kepemilikan perusahaan.

Masuknya Rahayu Saraswati dan Apa Artinya bagi Arah Bisnis TRIN

Pada 2 Desember 2025, manajemen TRIN menandatangani perjanjian kerja sama dengan Rahayu Saraswati D. Djojohadikusumo, putri Hashim Djojohadikusumo yang juga keponakan Presiden Prabowo Subianto. Lewat perjanjian ini, terjadi pengalihan saham dari pemegang saham utama perseroan, yaitu PT Kunci Daud Indonesia dan PT Intan Investama Internasional, kepada Rahayu.

Skemanya bertahap. Pada tahap awal, jumlah saham yang dialihkan mencapai 5%, dengan opsi lanjutan hingga maksimal 20%, sementara harga per lembar sahamnya baru ditentukan pada saat transaksi benar-benar berlangsung. Manajemen berulang kali menegaskan bahwa transaksi ini tidak mengubah struktur pengendalian perusahaan.

KDI dan III tetap menjadi pemegang saham pengendali, dan TRIN pun tidak otomatis menjadi satu grup usaha dengan perusahaan lain milik keluarga Djojohadikusumo, termasuk PT Solusi Sinergi Digital Tbk yang punya kode saham WIFI.

Tidak lama setelah perjanjian itu diteken, tepatnya lewat Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada tanggal yang sama, Rahayu resmi diangkat sebagai Komisaris Utama TRIN, menggantikan posisi Septian Starlin. Pengumuman ini langsung direspons pasar dengan antusias.

Pada hari pengumuman, saham TRIN melompat 9,94% menyentuh batas auto rejection atas ke level Rp940 per saham, dengan kapitalisasi pasar saat itu tembus Rp4,28 triliun. Saham TRUE, anak usahanya, ikut terbang ke level ARA di hari yang sama.

Realisasi pengalihan saham kemudian terkonfirmasi lewat dua entitas baru, PT Raksaka Satya Devya dan PT Rada Saraswati Surya, yang menyelesaikan transaksi pembelian saham TRIN pada 16 Desember 2025.

PT Raksaka Satya Devya membeli 182,05 juta lembar saham atau setara 4% dari total saham beredar, dengan harga rata-rata Rp200 per saham, sehingga nilai transaksinya sekitar Rp36,41 miliar. Sementara PT Rada Saraswati Surya memiliki 45,51 juta lembar atau setara 1% saham dengan nilai transaksi sekitar Rp9,10 miliar.

Dari sisi arah bisnis, manajemen menyampaikan bahwa kerja sama ini diarahkan untuk mempercepat proyek yang sedang dan akan dikembangkan, dengan fokus baru pada segmen rumah tapak, logistic park, serta rencana masuk ke bisnis pusat data.

Diversifikasi ke sektor data center ini disebut sebagai langkah mengurangi ketergantungan pada properti residensial yang sifatnya lebih fluktuatif, sambil membidik segmen properti infrastruktur yang biasanya punya pendapatan berulang lebih stabil.

Apakah Wajar Kalau Investor Ritel Tergoda Ikut Membeli Saham TRIN?

Pertanyaan ini yang paling sering muncul dari orang yang baru mendengar cerita TRIN dan tergoda ikut masuk karena melihat kenaikan harganya yang fantastis. Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak, karena ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan bersamaan.

Pertama, saham dengan kenaikan setajam ini biasanya juga rawan koreksi yang sama tajamnya begitu sentimen berubah, apalagi kalau kenaikan sebagian besar didorong oleh isu korporasi atau nama besar di baliknya, bukan semata perbaikan kinerja operasional.

Kedua, riwayat suspensi berulang menunjukkan otoritas bursa sendiri melihat ada pola transaksi yang perlu diwaspadai, meski BEI menegaskan status Unusual Market Activity tidak otomatis berarti ada pelanggaran aturan pasar modal.

Ketiga, saham TRIN termasuk kategori yang masuk papan pemantauan khusus, sebuah penanda dari bursa bahwa investor perlu ekstra hati-hati sebelum bertransaksi.

Bagi yang mempertimbangkan masuk ke saham semacam ini, ada baiknya menimbang profil risiko masing-masing dan berkonsultasi dengan penasihat keuangan berizin sebelum mengambil keputusan, terutama karena pergerakan harga yang ekstrem seperti ini bisa berbalik arah secepat ia melesat naik.

Ke Mana Arah TRIN Selanjutnya

Triniti Land sekarang berada di persimpangan yang cukup unik. Di satu sisi, ada fondasi bisnis properti yang sudah terbangun lebih dari satu dekade dengan portofolio proyek nyata dan kinerja keuangan yang mulai membaik. Di sisi lain, ada sorotan pasar modal yang datang bukan cuma karena kinerja, tapi juga karena nama besar yang kini duduk sebagai Komisaris Utama.

Bagaimana kombinasi keduanya akan berjalan dalam beberapa kuartal ke depan, terutama saat rencana ekspansi ke rumah tapak, logistik, dan pusat data mulai direalisasikan, itu yang akan menentukan apakah lonjakan harga sahamnya selama ini benar-benar mencerminkan nilai bisnis yang sesungguhnya, atau sekadar euforia sesaat yang mengikuti nama besar di baliknya.