Profil PT Rohartindo Nusantara Luas Tbk, Emiten TOOL

Admin KerjabosSelasa, 21 Juli 2026 | 19:35 WIB
Mengenal TOOL, Emiten Distributor Nankai di IDX
Mengenal TOOL, Emiten Distributor Nankai di IDX

PT Rohartindo Nusantara Luas Tbk adalah perusahaan trading yang mendistribusikan alat teknik, perkakas, produk rumah tangga, dan koper di Indonesia, dengan Nankai sebagai merek utama yang mereka pasarkan.

Perusahaan ini tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham TOOL sejak Agustus 2022, dan kini dikenal luas sebagai salah satu emiten kecil di sektor konsumer siklikal yang bergerak di subsektor peralatan rumah tangga.

Berdiri pada 4 Oktober 2014 dan berkantor pusat di Tangerang, Rohartindo memulai bisnisnya dengan cara yang cukup konvensional. Perusahaan menjual produknya secara offline melalui jaringan agen dan reseller yang mendatangi pembeli langsung dari pintu ke pintu.

Model bisnis semacam ini umum dipakai pelaku usaha distribusi barang konsumer di Indonesia pada masa awal berdirinya perusahaan, sebelum era belanja daring mendominasi pasar ritel nasional.

Bisnis Inti dan Merek yang Dipasarkan

Rohartindo merupakan anak usaha dari PT Rohartindo Maju Perkasa dan berperan sebagai distributor resmi Nankai, merek asal Jepang yang menawarkan berbagai produk rumah tangga, alat teknik, dan koper.

Selain Nankai, perusahaan juga memasarkan sejumlah merek lain seperti Airwheel, Dongsing, VVIP, Junior, Kovea, Rubystar, SNZO, Tile Tools, Zupper, dan Varem. Portofolio produknya terbagi ke dalam tiga kategori utama, yaitu peralatan rumah tangga, perkakas, dan tas koper, termasuk lini produk seperti bor tanpa kabel (cordless drillset) dan berbagai perkakas listrik lainnya.

Ilustrasi gudang distribusi PT Rohartindo Nusantara Luas Tbk emiten TOOL

Airwheel, salah satu merek yang dipasarkan Rohartindo, dikenal sebagai lini produk mobilitas pintar seperti koper elektrik dan skuter roda. Sebagai bagian dari strategi memperkuat penjualan lini ini, perusahaan sempat membuka gerai offline Airwheel di Galaxy Mall 3, Surabaya, sebagai upaya memperluas titik kontak langsung dengan konsumen di luar Jakarta.

Sejak tahun 2021, jaringan distribusi Rohartindo telah menjangkau Jakarta, Surabaya, Bandung, Sulawesi, Sumatera, Bali, dan Kalimantan, dengan dukungan lebih dari 1.000 distributor dan reseller di seluruh Indonesia.

Perusahaan baru mulai serius menggarap kanal penjualan daring pada 2022 melalui entitas anaknya, memasarkan produk lewat Facebook, Instagram, dan platform media sosial lain, sebuah langkah yang relatif terlambat dibanding kompetitor sejenis yang sudah lebih dulu beralih ke e-commerce.

Perjalanan Menuju Bursa Efek Indonesia

Rohartindo resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 9 Agustus 2022 dengan harga penawaran perdana Rp127 per saham, menjadikannya perusahaan tercatat ke-39 di BEI pada tahun tersebut.

Dalam proses penawaran umum perdana itu, perusahaan melepas 410 juta saham baru yang setara dengan 20 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh pasca-IPO, dengan total dana segar yang terhimpun mencapai sekitar Rp52,07 miliar. PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi dalam proses ini.

Selain saham, Rohartindo turut menerbitkan 205 juta lembar waran seri I secara cuma-cuma sebagai insentif bagi pemegang saham baru, dengan harga pelaksanaan Rp500 per waran dan masa penebusan yang berlangsung dari Februari 2023 hingga Agustus 2024.

Dana hasil IPO, setelah dikurangi biaya emisi, dialokasikan sekitar 54 persen untuk pembelian tiga unit ruko dan sisanya sekitar 46 persen untuk modal kerja pengembangan bisnis. Manajemen perusahaan pernah menyampaikan kepada BEI bahwa seluruh dana hasil IPO tersebut telah terpakai sepenuhnya.

Bagaimana Kinerja Keuangan Rohartindo Belakangan Ini?

Data yang tercantum dalam laporan tahunan perusahaan menunjukkan tren pendapatan yang menurun dalam tiga tahun terakhir. Pendapatan neto Rohartindo tercatat sekitar Rp148,5 miliar pada 2023, turun menjadi sekitar Rp93,5 miliar pada 2024, dan kembali menyusut menjadi sekitar Rp59,3 miliar pada 2025.

Penurunan pendapatan yang konsisten ini sejalan dengan tekanan pada laba kotor perusahaan, yang juga mengalami penurunan tahun demi tahun mengikuti pola pendapatannya.

Tekanan kinerja ini berlanjut ke tahun berikutnya. Pada kuartal pertama 2026, Rohartindo membukukan rugi bersih sebesar Rp4,9 miliar, meningkat dibanding periode yang sama pada 2025 yang mencatatkan rugi Rp2,6 miliar. Rugi bersih per saham pada periode tersebut setara dengan Rp2,32 per lembar, dengan margin bersih tercatat negatif sekitar 48 persen.

Angka-angka ini mengindikasikan bahwa perusahaan masih menghadapi tantangan profitabilitas di tengah persaingan ketat sektor distribusi alat rumah tangga dan perkakas.

Dari sisi pasar modal, harga saham TOOL sempat menjadi sorotan karena volatilitasnya yang tinggi, hingga manajemen perusahaan diminta memberikan klarifikasi resmi kepada BEI terkait pergerakan harga sahamnya.

Bagi investor yang mempertimbangkan saham ini, penting untuk memperhatikan bahwa keputusan investasi sebaiknya didasarkan pada analisis fundamental yang menyeluruh dan berkonsultasi dengan penasihat keuangan berlisensi, mengingat rekam jejak profitabilitas perusahaan yang masih fluktuatif.

Tantangan di Tengah Persaingan Ritel Alat Rumah Tangga

Bisnis distribusi alat teknik dan produk rumah tangga di Indonesia menghadapi persaingan yang semakin ketat, baik dari peritel modern maupun platform e-commerce yang menjual produk sejenis dengan harga kompetitif.

Rohartindo, yang model bisnis awalnya bertumpu pada penjualan konvensional lewat reseller, harus beradaptasi lebih cepat ke kanal digital untuk mempertahankan pangsa pasarnya.

Keterlambatan relatif dalam menggarap e-commerce dibanding kompetitor sejenis menjadi salah satu faktor yang patut dicermati ketika menilai prospek bisnis perusahaan ke depan.

Di sisi lain, diversifikasi merek yang dimiliki Rohartindo, mulai dari perkakas listrik hingga produk mobilitas pintar seperti Airwheel, memberi ruang bagi perusahaan untuk menyasar segmen pasar yang lebih luas.

Keberhasilan strategi ini akan sangat bergantung pada kemampuan manajemen memperkuat distribusi sekaligus menekan beban operasional, mengingat beban penjualan dan administrasi perusahaan justru meningkat pada 2023 di saat pendapatan mulai melambat.

Bagi pembaca yang tertarik mengikuti perkembangan Rohartindo ke depan, dua hal layak dipantau: pemulihan tren pendapatan setelah tiga tahun berturut-turut mengalami penurunan, dan efektivitas strategi digitalisasi penjualan yang baru digarap serius dalam beberapa tahun terakhir.

Laporan keuangan kuartalan yang dipublikasikan secara berkala di keterbukaan informasi BEI menjadi rujukan paling akurat untuk melihat apakah perusahaan mampu membalikkan tren kerugian yang terjadi sejak awal 2025.