Profil Asuransi Bina Dana Arta Tbk (ABDA) Kini Oona

Admin KerjabosSabtu, 18 Juli 2026 | 13:02 WIB
Mengenal PT Asuransi Bina Dana Arta Tbk, dari IPO 1989 hingga Era Warburg Pincus
Mengenal PT Asuransi Bina Dana Arta Tbk, dari IPO 1989 hingga Era Warburg Pincus

PT Asuransi Bina Dana Arta Tbk, emiten asuransi umum yang tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode ABDA, kini beroperasi dengan identitas dagang Oona Insurance setelah dikendalikan oleh Oona Indonesia Pte. Ltd., anak usaha tidak langsung dari Oona Holdings Pte. Ltd. yang didukung penuh oleh Warburg Pincus LLC, perusahaan ekuitas swasta global asal Amerika Serikat.

Perubahan ini bukan sekadar pergantian nama pemasaran, melainkan hasil dari rangkaian akuisisi yang mengubah struktur kepemilikan perusahaan secara mendasar dalam beberapa tahun terakhir.

Perjalanan dari Bina Dharma Arta hingga Menjadi Oona Insurance

Perusahaan ini pertama kali berdiri di Jakarta pada 12 Oktober 1982 dengan nama PT Asuransi Bina Dharma Arta, berdasarkan akta notaris Kartini Mulyadi. Nama tersebut sempat berganti menjadi PT Dharmala Insurance pada 1994, sebelum akhirnya pada 1999 kembali berganti menjadi PT Asuransi Bina Dana Arta Tbk, nama yang lebih dikenal publik sebagai Asuransi ABDA hingga sekarang. Perusahaan mencatatkan sahamnya di bursa lewat penawaran umum perdana pada Juli 1989.

Babak baru dimulai pada 2013 ketika Mapfre Internacional SA, perusahaan asuransi asal Spanyol, mengambil alih sekitar 20 persen saham ABDA dan kemudian memperbesar kepemilikannya. Situasi berubah lagi pada 2022, saat Mapfre memutuskan melepas seluruh bisnisnya di kawasan Asia.

Saham ABDA yang dilepas Mapfre diambil alih oleh Aseana Insurance Pte. Ltd., entitas yang seratus persen dimiliki dan didukung oleh Warburg Pincus. Sejak awal 2023, ABDA resmi beroperasi di bawah payung merek Oona Insurance, meski nama badan hukumnya di dokumen resmi dan bursa saham tetap PT Asuransi Bina Dana Arta Tbk.

Siapa Pengendali ABDA Sekarang?

Berdasarkan laporan Kustodian Sentral Efek Indonesia yang dipublikasikan melalui keterbukaan informasi bursa pada Maret 2026, Oona Indonesia Pte. Ltd. tercatat menguasai 538.555.304 saham ABDA atau setara 86,75 persen dari total saham beredar, dengan Warburg Pincus sebagai pemilik manfaat akhir dari struktur tersebut. Sisa saham dipegang oleh masyarakat, baik dalam bentuk non warkat sekitar 13,08 persen maupun warkat konvensional sebesar 0,17 persen.

Porsi saham publik yang relatif kecil ini membuat ABDA sempat belum memenuhi ketentuan free float minimum 15 persen yang diberlakukan Bursa Efek Indonesia bagi seluruh emiten tercatat mulai Maret 2026, sehingga jumlah investor publiknya masih terus dipantau seiring kewajiban tersebut.

Di level bisnis regional, Warburg Pincus tidak berhenti pada akuisisi ABDA saja. Perusahaan modal ini juga menguasai Oona Insular Insurance Corporation di Filipina, dan menempatkan keduanya sebagai fondasi ekspansi platform asuransi digital Oona di Asia Tenggara, dengan komitmen investasi senilai ratusan juta dolar AS untuk memperkuat lini insurtech kawasan.

Lini Bisnis dan Produk yang Ditawarkan

Sebagai perusahaan asuransi umum, baik dengan prinsip konvensional maupun syariah, Oona Insurance menyediakan perlindungan untuk kendaraan bermotor roda dua dan roda empat, kebakaran dan properti termasuk risiko gempa bumi, kecelakaan diri dan kesehatan, pengangkutan atau marine cargo, rekayasa teknik, tanggung gugat, perjalanan, hingga produk mikro dan asuransi kredit.

Lini asuransi kendaraan bermotor menjadi salah satu andalan perusahaan, terbukti dari kontribusi premi yang terus membesar dalam beberapa tahun terakhir meski industri otomotif nasional tengah melambat. Perusahaan menggenjot segmen ini lewat penguatan kemitraan dengan perusahaan pembiayaan, bukan sekadar mengandalkan penjualan langsung ke konsumen ritel.

Selain jalur distribusi tradisional lewat agen dan mitra perbankan, Oona Insurance juga merambah kerja sama dengan pihak ketiga di luar sektor keuangan konvensional, misalnya kolaborasi dengan penyedia layanan visa dan perjalanan internasional untuk produk asuransi perjalanan.

Bagaimana Kinerja Keuangan Terkini Perusahaan?

Kinerja keuangan ABDA menunjukkan tren perbaikan yang cukup tajam sepanjang 2025. Pada kuartal pertama tahun tersebut, perusahaan membukukan laba tahun berjalan Rp18,61 miliar, naik dari Rp12,04 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya, ditopang oleh kenaikan premi neto menjadi Rp205,25 miliar.

Momentum ini berlanjut hingga kuartal ketiga, dengan laba bersih mencapai Rp62,93 miliar, melonjak 67,26 persen dibandingkan Rp37,63 miliar pada kuartal ketiga 2024, sementara pendapatan total tumbuh 17,48 persen menjadi Rp798,06 miliar. Total aset perusahaan pada posisi September 2025 tercatat Rp2,82 triliun.

Untuk keseluruhan tahun 2025, laba bersih ABDA melompat 157,89 persen secara tahunan, dari Rp38,69 miliar pada 2024 menjadi Rp99,77 miliar, sejalan dengan pendapatan premi dan anuitas yang tumbuh dari Rp751,28 miliar menjadi Rp863,97 miliar.

Manajemen perusahaan menyebut perbaikan laba ini lebih banyak didorong oleh efisiensi biaya operasional dan pengelolaan beban klaim selama satu setengah tahun terakhir, ketimbang semata pertumbuhan premi. Hasil investasi perusahaan, yang sebagian besar ditempatkan pada obligasi pemerintah, deposito berjangka, dan surat utang korporasi, turut menopang perolehan laba meski sempat berfluktuasi pada beberapa periode akibat kondisi pasar surat utang.

Jajaran Direksi dan Komisaris

Kepemimpinan operasional perusahaan saat ini dipegang oleh Vincent Citizen Soegianto sebagai Direktur Utama, didampingi oleh Julien Pierre Combaret, Liani Chandra, dan Iwan Kurniawan sebagai direktur. Di jajaran komisaris, Abhishek Bhatia, yang juga menjabat sebagai Founder and Group CEO Oona Insurance Group, duduk sebagai Komisaris Utama bersama Kevin Soedyatmiko yang mewakili kepentingan Warburg Pincus, Nathaniel Mangunsong, dan Francisco Noriega Malave. Komite Audit perusahaan diketuai Herwan Ng dengan anggota Francisco Noriega Malave dan Kusuwandi Tamin.

Bagi investor ritel yang mempertimbangkan saham ABDA, penting untuk mencermati bahwa struktur kepemilikan yang masih terkonsentrasi pada pemegang saham pengendali membuat likuiditas perdagangan sahamnya cenderung tipis, sehingga keputusan berinvestasi sebaiknya mempertimbangkan profil risiko masing-masing dan idealnya dikonsultasikan dengan penasihat keuangan yang memahami karakter saham dengan free float terbatas.

Ke depan, arah bisnis ABDA akan sangat bergantung pada strategi ekspansi regional Oona Insurance yang didukung Warburg Pincus, termasuk rencana perluasan portofolio digital dan penambahan mitra distribusi baru. Bagi nasabah yang sudah memegang polis dari perusahaan ini, perubahan nama dagang menjadi Oona Insurance tidak mengubah status badan hukum maupun kewajiban perusahaan sebagai pemegang izin usaha asuransi umum yang diawasi Otoritas Jasa Keuangan, sehingga perlindungan polis yang berjalan tetap mengikuti ketentuan yang sudah disepakati sebelumnya.

FAQ

Apakah PT Asuransi Bina Dana Arta Tbk dan Oona Insurance perusahaan yang sama? Ya. Oona Insurance adalah nama dagang yang digunakan sejak awal 2023, sementara badan hukum dan kode saham di bursa tetap menggunakan nama PT Asuransi Bina Dana Arta Tbk atau ABDA.

Apakah Mapfre masih menjadi pemegang saham ABDA? Tidak. Mapfre Internacional SA telah melepas seluruh kepemilikannya di ABDA pada 2022 kepada Aseana Insurance Pte. Ltd., yang didukung penuh oleh Warburg Pincus.