PT Sunindo Adipersada Tbk adalah produsen boneka dan mainan anak asal Bogor yang sempat menjadi salah satu pemain ekspor terbesar di industrinya, sebelum akhirnya dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat pada 24 Juni 2024 dan dijadwalkan didepak dari Bursa Efek Indonesia pada 10 November 2026.
Perjalanan perusahaan ini, dari pabrik rumahan yang dirintis pada 8 Maret 1991 hingga menjadi emiten yang gagal bayar utang, menjadi salah satu kisah paling mencolok di lantai bursa dalam beberapa tahun terakhir.
Perusahaan yang dikenal dengan kode saham TOYS ini berdiri di kawasan Industri Bostinco, Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, dengan luas area produksi sekitar 90.000 meter persegi. Pada masa awal berdirinya, delapan supervisor Indonesia dikirim ke Korea Selatan untuk mempelajari teknik produksi boneka bertekstur (stuffed toys).
Bertahun-tahun kemudian, perusahaan mengoperasikan sekitar 700 mesin jahit dan puluhan lini produksi dengan kapasitas jutaan unit boneka per tahun, cukup untuk memasok kebutuhan brand internasional di Eropa, Amerika Utara, hingga Australia.
Bisnis Inti dan Merek Ozco
Model bisnis Sunindo Adipersada terbagi dalam dua segmen utama. Segmen pertama adalah produksi berdasarkan pesanan pihak ketiga atau Original Equipment Manufacturer, di mana perusahaan membuat boneka dan mainan sesuai spesifikasi klien global, termasuk produk berlisensi karakter populer seperti Oggy and the Cockroaches dan Ice Age. Segmen kedua berjalan lewat merek sendiri, Ozco, yang mencakup lini Mini Animal, Mini Fantasy, hingga koleksi boneka bertema kebun binatang dan dunia purba.
Menariknya, hak penggunaan merek Ozco sebenarnya berasal dari perjanjian lisensi dengan PT Tri Star Internasional, perusahaan afiliasi yang memiliki pengurus sama dengan Sunindo Adipersada. Iwan Tirtha, yang menjabat Direktur Utama TOYS, juga tercatat sebagai pemegang saham sekaligus direktur utama di Tri Star. Struktur kepemilikan silang ini kelak ikut terseret dalam proses hukum yang membelit perusahaan.
Dari sisi kualitas, perusahaan mengklaim telah menerapkan standar manajemen mutu ISO 9001 serta sertifikasi keselamatan mainan internasional seperti EN 71 dan ASTM 963, standar yang lazim disyaratkan oleh pembeli di pasar Eropa dan Amerika Serikat mengingat sekitar 90 persen produksinya berorientasi ekspor.
Melantai di Bursa Efek Indonesia
Sunindo Adipersada resmi mencatatkan sahamnya di BEI pada 6 Agustus 2020 dengan harga penawaran Rp350 per lembar. Perusahaan melepas 425 juta saham biasa dengan nilai nominal Rp100 per saham, sehingga meraup dana segar hingga Rp148,75 miliar dari aksi korporasi tersebut. Penawaran ini juga disertai penerbitan waran seri I. Pemegang saham pengendali utama saat itu adalah PT Hoekel Bangun Abadi dengan porsi lebih dari 40 persen saham.
Direksi perusahaan waktu itu optimistis melihat tren pertumbuhan tiga tahun terakhir sebelum IPO, dengan pendapatan yang terus naik. Bahkan pada kuartal pertama 2020, di tengah awal pandemi, pendapatan ekspor perusahaan justru melonjak signifikan dibanding periode sama tahun sebelumnya. Momentum inilah yang mendasari keputusan manajemen untuk go public dan memperkenalkan diri kepada investor ritel domestik.
Dari Penurunan Kinerja hingga Vonis Pailit
Optimisme itu tidak bertahan lama. Setelah sempat mencatat laba bersih sekitar Rp1,88 miliar pada 2022, kinerja Sunindo Adipersada anjlok tajam setahun berikutnya. Pendapatan turun lebih dari separuh, sementara perusahaan mencatat rugi bersih belasan miliar rupiah. Ketergantungan besar pada pasar ekspor membuat perusahaan sangat rentan ketika permintaan global melemah dan gangguan rantai pasok masih terasa pasca pandemi, sementara beban utang yang menumpuk tidak lagi bisa ditutup oleh arus kas operasional.
Tekanan finansial ini berujung pada gugatan hukum. Pada 21 Agustus 2023, PT Fajar Investama Indonesia mengajukan permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang atau PKPU ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, dengan nomor perkara 257/Pdt.Sus-PKPU/2023/PN Niaga Jkt.Pst. Gugatan itu turut menyeret Tri Star Internasional sebagai entitas afiliasi. Proses PKPU sempat diperpanjang untuk membuka ruang negosiasi damai dengan para kreditur, namun kesepakatan restrukturisasi utang gagal dicapai.
Pengadilan Niaga akhirnya menyatakan Sunindo Adipersada berada dalam keadaan pailit lewat putusan tanggal 24 Juni 2024. Sehari setelah keterbukaan informasi ini disampaikan, BEI menghentikan sementara perdagangan efek TOYS di seluruh pasar terhitung sejak sesi pertama perdagangan 2 Juli 2024, dengan alasan ketidakpastian kelangsungan usaha dan kewajiban perusahaan yang belum dipenuhi. Sejak vonis itu, kendali penuh atas aset perusahaan berpindah ke tangan kurator, sementara manajemen lama praktis kehilangan wewenang operasional.
Menuju Delisting dari Bursa
Status pailit yang tidak kunjung terselesaikan membawa konsekuensi lanjutan. Bursa Efek Indonesia memasukkan Sunindo Adipersada ke dalam daftar 18 emiten yang akan dihapus pencatatannya mulai 10 November 2026, bersama enam emiten pailit lain seperti Sri Rejeki Isman (Sritex) dan sebelas emiten yang telah disuspensi lebih dari 50 bulan.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI menyebut bahwa perusahaan-perusahaan tersebut sebenarnya sudah diberi kesempatan perbaikan fundamental lebih dari 24 bulan sesuai ketentuan bursa, sehingga langkah delisting diambil sebagai bagian dari perlindungan investor. Sebagai bagian dari proses ini, emiten terdampak diimbau melaksanakan pembelian kembali saham atau buyback dalam periode yang telah ditetapkan bursa.
Bagi calon investor maupun pihak yang pernah bersinggungan dengan produk Ozco, kasus TOYS menjadi pengingat penting bahwa status sebagai perusahaan terbuka tidak otomatis menjamin ketahanan bisnis, terutama bagi emiten dengan kapitalisasi kecil, konsentrasi pasar ekspor yang tinggi, serta struktur utang yang tidak dikelola secara konservatif. Ke depan, nasib operasional pabrik di Cileungsi maupun penyelesaian kewajiban kepada kreditur akan sepenuhnya bergantung pada proses hukum di bawah pengawasan kurator, bukan lagi mekanisme pasar modal.
FAQ
Apakah saham TOYS masih bisa diperdagangkan saat ini?
Tidak. Saham TOYS telah disuspensi di seluruh pasar BEI sejak 2 Juli 2024 dan dijadwalkan resmi dihapus dari pencatatan bursa (delisting) pada 10 November 2026.
Apakah pabrik Sunindo Adipersada masih beroperasi meski dinyatakan pailit?
Belum ada konfirmasi resmi dan terkini mengenai status operasional pabrik pascaputusan pailit, karena kendali aset perusahaan kini berada di tangan kurator, bukan manajemen lama. Pihak yang membutuhkan kepastian sebaiknya merujuk pada keterbukaan informasi resmi kurator atau BEI.





