Profil PT Chandra Asri Pacific Tbk, Raksasa Petrokimia RI

Admin KerjabosKamis, 16 Juli 2026 | 18:34 WIB
Mengenal PT Chandra Asri Pacific Tbk, Pemain Utama Petrokimia ASEAN
Mengenal PT Chandra Asri Pacific Tbk, Pemain Utama Petrokimia ASEAN

PT Chandra Asri Pacific Tbk, yang lebih dikenal publik dengan nama lamanya Chandra Asri Petrochemical, adalah produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia sekaligus salah satu pemain utama di Asia Tenggara, dengan kode saham TPIA di Bursa Efek Indonesia.

Perusahaan ini menjadi bagian dari Grup Barito Pacific milik konglomerat Prajogo Pangestu dan kini merambah tiga pilar bisnis sekaligus, yaitu energi, kimia, dan infrastruktur, jauh melampaui citra lamanya sebagai sekadar pabrik olefin dan polietilena.

Nama Chandra Asri Petrochemical sebenarnya sudah tidak berlaku secara resmi sejak akhir 2023. Rapat Umum Pemegang Saham pada 29 Desember 2023 memutuskan mengganti nama perseroan menjadi PT Chandra Asri Pacific Tbk, sebuah langkah yang mencerminkan perluasan bisnis perusahaan ke sektor pembangkit listrik, air, dan pelabuhan yang jauh lebih luas dari sekadar manufaktur kimia.

Banyak orang masih menyebutnya dengan nama lama karena identitas itu sudah melekat selama lebih dari satu dekade, tetapi secara hukum dan di laporan keuangan resmi, Chandra Asri Pacific adalah nama yang sekarang berlaku.

Perjalanan dari Dua Perusahaan Jadi Satu Raksasa

Sejarah perusahaan ini sebenarnya lahir dari penggabungan dua entitas berbeda. PT Chandra Asri (awalnya bernama CAPC) didirikan pada 6 Maret 1989 oleh sejumlah pengusaha, termasuk Bambang Trihatmodjo dan Prajogo Pangestu, sementara PT Tri Polyta Indonesia berdiri lebih dulu sebagai produsen polipropilena terbesar di Indonesia.

Menjelang akhir 2010, kedua perusahaan yang sama-sama berada di bawah kendali Barito Pacific memutuskan merger untuk membentuk perusahaan petrokimia terintegrasi terbesar di Asia Tenggara. Skema itu disetujui pada 27 Oktober 2010, dan pada 30 Desember 2010 Tri Polyta resmi berganti nama menjadi PT Chandra Asri Petrochemical Tbk, dengan Chandra Asri melebur ke dalamnya mulai 1 Januari 2011.

Perjalanan sebelum merger itu sendiri tidak mulus. Proyek pembangunan pabrik Chandra Asri sempat terhenti akibat krisis, lalu baru kembali berjalan setelah pemerintah mengizinkan konversi status proyek pada 1992.

Krisis moneter 1997-1998 juga membuat perusahaan terlilit utang hingga lebih dari satu miliar dolar AS, sebelum akhirnya direstrukturisasi dan kepemilikannya kembali terkonsolidasi di tangan Prajogo Pangestu melalui Barito Pacific pada awal 2000-an. Dari titik nyaris kolaps itulah perusahaan bertransformasi menjadi entitas yang kini mengoperasikan satu-satunya naphtha cracker terintegrasi di Indonesia.

Tiga Pilar Bisnis: Energi, Kimia, dan Infrastruktur

Fondasi bisnis Chandra Asri Pacific tetap berakar pada produksi petrokimia. Perusahaan memproduksi olefin, poliolefin, stirena monomer, dan butadiena yang menjadi bahan baku untuk industri kemasan, otomotif, elektronik, hingga konstruksi. Produk poliolefinnya dipasarkan dengan merek Asrene untuk polietilena dan Trilene untuk polipropilena. Fasilitas produksinya tersebar di kawasan Cilegon dan Serang, Banten, dengan kantor pusat berada di Wisma Barito Pacific, Jakarta Barat.

Yang membedakan Chandra Asri Pacific dari sekadar pabrik kimia adalah ekspansinya yang agresif ke sektor energi dan infrastruktur dalam beberapa tahun terakhir. Melalui anak usahanya, PT Chandra Daya Investasi Tbk atau CDI Group, yang sudah melantai di bursa lewat penawaran umum perdana, perusahaan menggarap bisnis kelistrikan, air, kepelabuhanan, penyimpanan, dan logistik.

Armada logistiknya kini mencakup 14 kapal gas dan kimia serta lebih dari 200 truk. Sementara itu, ekspansi di segmen energi ditandai dengan integrasi Aster Chemicals and Energy, kompleks kilang dan petrokimia yang sebelumnya dikenal sebagai Shell Energy and Chemicals Park di Singapura, hasil akuisisi bersama Glencore. Perusahaan juga memperluas jejak regionalnya lewat akuisisi jaringan ritel bahan bakar bermerek Esso milik ExxonMobil di Singapura, yang rampung pada 1 Januari 2026.

Struktur Kepemilikan Saham

Kendali utama TPIA berada di tangan Barito Pacific Group yang dimiliki Prajogo Pangestu. Setelah rangkaian rights issue dan masuknya investor strategis, komposisi pemegang saham berubah dari waktu ke waktu. Pada 2021, Chandra Asri mengumumkan Thai Oil Public Company Limited sebagai investor strategis untuk memperkuat permodalan pembangunan kompleks petrokimia kedua.

Setelah proses rights issue tersebut, Barito Pacific tercatat memegang 34,54% saham, SCG Chemicals 30,57%, Thaioil 15%, dan Prajogo Pangestu pribadi 7,78%, dengan sisanya tersebar ke pemegang saham lain termasuk publik. SCG Chemicals sendiri, anak usaha Siam Cement Group asal Thailand, sudah menjadi pemegang saham sejak 2011.

Kinerja Keuangan yang Melonjak Tajam

Setelah sempat mencatat kerugian pada 2024, kinerja keuangan Chandra Asri Pacific berbalik arah secara dramatis sepanjang 2025. Perusahaan membukukan pendapatan bersih sekitar US$7,02 miliar, melesat 293,2% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan segmen energi menjadi kontributor terbesar berkat integrasi Aster.

EBITDA melonjak lebih dari dua puluh kali lipat menjadi US$1,66 miliar, sementara laba bersih setelah pajak mencapai US$1,49 miliar, berbalik dari kerugian bersih US$56,5 juta pada 2024. Total aset perusahaan pun ikut membengkak, meningkat lebih dari dua kali lipat secara tahunan menjadi hampir US$12,4 miliar, mencerminkan skala operasional yang jauh lebih besar setelah rangkaian akuisisi.

Momentum positif itu berlanjut ke kuartal pertama 2026, ketika perusahaan mencatat lonjakan laba bersih ke US$205 juta dengan EBITDA mencapai US$421 juta, yang turut mendorong harga saham TPIA melonjak tajam dalam hitungan hari di Bursa Efek Indonesia.

Untuk mendukung program hilirisasi industri kimia dalam negeri, perusahaan juga tengah membangun fasilitas caustic soda dan ethylene dichloride atau CA-EDC dengan alokasi belanja modal sekitar US$1 miliar, proyek yang turut mendapat dukungan pendanaan dari Danantara dan Indonesia Investment Authority senilai US$200 juta, dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.

Meski demikian, tahun 2026 diproyeksikan membawa tantangan yang tidak ringan. Gangguan geopolitik sempat memaksa TPIA menyatakan force majeure atas kontrak-kontraknya pada awal Maret 2026 akibat gangguan distribusi energi terkait blokade Selat Hormuz, sebuah pengingat bahwa bisnis petrokimia tetap sangat rentan terhadap gejolak harga minyak mentah sebagai bahan baku utamanya.

Bagi investor maupun pelaku industri yang mengandalkan pasokan petrokimia dalam negeri, perkembangan lanjutan proyek CA-EDC dan stabilitas rantai pasok energi Chandra Asri Pacific akan menjadi indikator penting untuk memantau arah industri kimia nasional dalam beberapa tahun ke depan.