Profil PT Tunas Ridean: Profil, Sejarah, Alasan Delisting

Admin KerjabosSelasa, 7 Juli 2026 | 18:45 WIB
Profil PT Tunas Ridean
Profil PT Tunas Ridean

PT Tunas Ridean Tbk adalah induk usaha grup otomotif independen terbesar di Indonesia, pemegang jaringan diler resmi Toyota, BMW, Daihatsu, dan sepeda motor Honda, yang justru melepas status perusahaan terbukanya pada 2023 meski puluhan tahun jadi emiten di Bursa Efek Indonesia. Nama TURI masih dipakai secara internal, tapi sahamnya sudah tidak bisa dibeli siapa pun di pasar modal.

Kalau kamu googling “Tunas Ridean” karena baru lihat namanya di dealer atau sedang riset soal grup otomotif nasional, kemungkinan besar kamu bakal bingung di satu titik: kok datanya ada yang bilang perusahaan terbuka, tapi ada juga yang bilang sudah delisting? Dua-duanya benar, cuma beda waktu. Itulah yang bakal dikupas tuntas di sini, plus struktur bisnisnya yang ternyata jauh lebih kompleks dari sekadar “jualan mobil Toyota”.

Sejarah Singkat: Dari Bisnis Keluarga Sampai Jadi Rebutan Konglomerasi Singapura

Cikal bakal Tunas Ridean dimulai tahun 1967 sebagai perusahaan keluarga bernama PT Tunas Indonesia Motor, mengimpor dan menjual mobil Fiat, Holden, dan Mercedes-Benz baik baru maupun bekas. Bisnis ini kemudian berkembang pesat setelah pada 1974 ditunjuk sebagai diler resmi Toyota, Daihatsu, BMW, Peugeot, dan Renault untuk Jakarta dan sekitarnya, sekaligus diler sepeda motor Honda untuk wilayah Lampung.

Tahun 1980 jadi titik penting karena seluruh unit bisnis yang tadinya terpisah-pisah diintegrasikan ke dalam satu perusahaan induk bernama PT Tunas Ridean. Lima belas tahun kemudian, tepatnya 1995, perusahaan ini melantai di Bursa Efek Indonesia sekaligus kedatangan pemain besar dari Singapura, Jardine Cycle & Carriage, yang mengakuisisi 25% sahamnya.

Nama Jardine ini nantinya akan terus muncul sepanjang perjalanan Tunas Ridean, karena grup yang sama juga memegang saham mayoritas di Astra International. Jadi kalau ada yang bilang Tunas Ridean itu “saudara” Astra, itu bukan mitos belaka, keduanya memang berada di bawah payung pemilik yang beririsan.

Perjalanan berikutnya diwarnai serangkaian akuisisi dan spin-off yang membentuk wajah grup seperti sekarang. Pada 2009, Tunas Ridean melepas 51% saham anak usaha pembiayaannya, Tunas Finance, ke Bank Mandiri, yang kemudian berganti nama jadi Mandiri Tunas Finance. Tahun 2012, grup ini mengakuisisi diler resmi Isuzu di Indonesia lewat PT Rahardja Ekalancar.

Kenapa Tunas Ridean Memilih Delisting di 2023?

Ini bagian yang sering bikin orang salah kaprah kalau cuma baca sepintas. Pada April 2023, Bursa Efek Indonesia resmi menghapus pencatatan saham TURI, menjadikannya emiten pertama yang delisting di BEI tahun itu setelah 28 tahun berstatus perusahaan terbuka sejak 1995.

Alasannya bukan karena bisnisnya sedang bermasalah, justru sebaliknya. Menjelang rencana go private ini diumumkan pertama kali pada Agustus 2022, saham publik yang beredar tinggal kurang dari 7,52% dari total modal ditempatkan, dengan jumlah pemegang saham publik sekitar 356 investor saja.

Manajemen menyebut saham tersebut sudah tidak aktif diperdagangkan dan relatif tidak likuid, sementara dua pemegang saham utama, Jardine Cycle & Carriage dan PT Tunas Andalan Pratama, masing-masing sudah menguasai 46,24% saham. Perdagangan saham TURI pun dihentikan BEI sejak Mei 2022 menjelang proses buyback.

Banyak yang baru sadar setelah membaca lebih detail bahwa ini pola yang lumrah terjadi pada perusahaan dengan free float super kecil: biaya menjaga status terbuka (kepatuhan pelaporan, RUPS, keterbukaan informasi) jadi tidak sepadan dengan manfaat akses modal publik yang nyaris tidak terpakai lagi.

Perusahaan menawarkan harga buyback Rp1.700 per saham, sekitar 23,77% lebih tinggi dari rata-rata harga tertinggi perdagangan 90 hari sebelum pengumuman rencana go private. Jadi bagi investor ritel yang masih pegang saham TURI waktu itu, momen delisting justru memberi kesempatan jual di harga premium, bukan rugi.

Konsekuensi praktisnya buat orang awam: kalau kamu cari kode saham TURI di aplikasi trading sekarang, kamu tidak akan menemukannya lagi. Data laporan keuangan tahunan yang biasanya dipublikasikan lewat IDX pun otomatis terhenti setelah 2022, karena kewajiban pelaporan publik sudah tidak berlaku lagi untuk perusahaan tertutup.

Struktur Kepemilikan: Duet Jardine dan Keluarga Pendiri

Setelah go private, struktur kepemilikan TURI relatif stabil dipegang dua pihak utama dengan porsi yang hampir sama besar. Sebanyak 46,24% saham PT Tunas Ridean dimiliki oleh Jardine Cycle & Carriage Ltd (JC&C), perusahaan yang tercatat di bursa Singapura dan bagian dari Jardine Matheson Group. Sisanya, dengan porsi setara, dipegang oleh PT Tunas Andalan Pratama yang merepresentasikan keluarga pendiri dan kelompok Tunas Group sendiri.

Yang menarik, JC&C bukan cuma pemegang saham pasif di Tunas Ridean. Perusahaan Singapura ini juga memiliki 50,11% saham di PT Astra International Tbk, plus bisnis otomotif serupa di Singapura, Malaysia, Myanmar, dan Vietnam. Praktis ini menjelaskan kenapa Tunas Ridean sering disebut sebagai “adik” Astra dalam ekosistem otomotif nasional: satu pemilik besar yang sama duduk di kedua kursi kemudi, meski manajemen dan operasionalnya berjalan independen.

Bukan Cuma Jualan Mobil: Lini Bisnis Tunas Ridean yang Sering Terlewat

Kalau ditanya “Tunas Ridean itu jualan apa”, jawaban paling gampang ya mobil dan motor. Tapi kalau berhenti di situ, kamu bakal melewatkan bagian yang justru bikin grup ini tahan banting menghadapi siklus naik-turun penjualan kendaraan baru.

Bisnis intinya memang penjualan dan distribusi kendaraan bermotor lewat beberapa anak usaha dengan merek berbeda-beda. PT Tunas Ridean sendiri memegang diler Toyota, sementara PT Tunas Mobilindo Perkasa menangani Daihatsu dan Peugeot, dan PT Tunas Mobilindo Parama fokus di BMW. Untuk roda dua, PT Tunas Dwipa Matra menjadi diler utama sepeda motor Honda khusus wilayah Lampung dengan puluhan outlet penjualan dan servis.

Di luar penjualan unit baru, ada tiga pilar bisnis lain yang justru sering jadi penopang laba saat pasar mobil baru sedang lesu. Pertama, jual beli mobil bekas lewat PT Tunas Aset Sarana yang mengoperasikan BMW Premium Selection dan beberapa merek lain. Kedua, penyewaan kendaraan jangka pendek dan panjang lewat PT Surya Sudeco alias Tunas Rent, lengkap dengan anak usahanya sendiri di bidang penyedia jasa pengemudi (PT Mitra Asri Pratama) dan balai lelang kendaraan (PT Mega Armada Sudeco). Ketiga, dan ini yang paling menarik, pembiayaan konsumen lewat perusahaan asosiasi Mandiri Tunas Finance.

Soal Mandiri Tunas Finance ini perlu penjelasan tersendiri karena strukturnya agak unik. Tunas Group hanya memegang 49% saham di perusahaan pembiayaan ini, sementara pemegang saham pengendali adalah Bank Mandiri dengan 51% saham. Meski begitu, kontribusinya ke laba konsolidasi Tunas Ridean bisa sangat signifikan, bahkan pernah menyelamatkan kinerja grup saat divisi otomotif sedang tertekan.

Model bisnis semacam ini sebenarnya jamak dipakai grup otomotif besar: mereka tidak cuma menjual unit, tapi juga membiayai pembeliannya, lalu merawat kendaraannya lewat bengkel resmi, dan akhirnya membeli kembali unit bekasnya. Satu siklus penuh yang saling menopang.

Bagaimana Kinerja Tunas Ridean Setelah Go Private?

Ini pertanyaan yang paling sulit dijawab secara presisi, dan jujur harus disampaikan begitu adanya: sejak delisting 2023, Tunas Ridean tidak lagi wajib mempublikasikan laporan keuangan tahunan secara terbuka seperti saat masih tercatat di bursa.

Data granular soal laba bersih, pendapatan, atau rasio keuangan terbaru pasca-2023 belum tersedia secara publik, berbeda dengan periode sebelum delisting yang datanya cukup lengkap terlacak dari laporan keuangan triwulanan yang dulu wajib disetor ke bursa.

Sebagai gambaran tren sebelum delisting, kinerja Tunas Ridean sempat melonjak signifikan berkat insentif PPnBM (Pajak Penjualan atas Barang Mewah) yang membebaskan pajak penjualan mobil baru sejak Maret 2021.

Pendapatan bersih grup tercatat Rp12,15 triliun pada 2021, naik 44,81% dari Rp8,39 triliun di tahun sebelumnya, dengan laba dari bisnis otomotif melonjak 155% jadi Rp402,9 miliar. Tren positif ini berlanjut ke 2022, dengan laba bersih tercatat Rp897,99 miliar, tumbuh 57% dari Rp571,29 miliar tahun sebelumnya, ditopang pendapatan bersih Rp14,57 triliun yang naik hampir 20%.

Data-data itu jadi titik terakhir yang bisa diverifikasi lewat sumber terbuka. Untuk kondisi bisnis di 2024, 2025, hingga pertengahan 2026, publik hanya bisa mengandalkan pengumuman terbatas seperti pembagian dividen interim yang sesekali diinformasikan lewat situs resmi Tunas Group, tanpa rincian laporan keuangan komprehensif.

Kalau kamu butuh angka pasti untuk keperluan riset atau investasi, satu-satunya jalan realistis adalah menghubungi langsung sekretaris perusahaan Tunas Ridean atau menelusuri laporan keuangan Jardine Cycle & Carriage yang masih tercatat publik di bursa Singapura, karena kinerja Tunas Ridean turut terkonsolidasi di sana sebagai entitas asosiasi.

Jaringan Outlet dan Jangkauan Wilayah

Salah satu keunggulan kompetitif Tunas Group dibanding diler otomotif independen lain adalah luasnya jaringan cabang. Grup ini mengoperasikan 157 cabang dari berbagai unit bisnis dan wilayah yang tersebar di seluruh Indonesia, menjangkau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, hingga Nusa Tenggara.

Sebutan “grup otomotif independen terbesar di Indonesia” yang sering melekat pada Tunas Group bukan klaim marketing kosong, melainkan merujuk pada statusnya sebagai pemain non-ATPM (bukan pemegang merek langsung dari prinsipal Jepang atau Eropa) dengan skala jaringan diler terluas.

Khusus untuk pembiayaan, jangkauan Mandiri Tunas Finance bahkan lebih lebar lagi karena mengikuti jaringan Bank Mandiri sebagai pengendali. Hingga akhir 2024, MTF melayani pelanggan melalui 125 kantor cabang yang tersebar di 32 provinsi di seluruh Indonesia, jauh melampaui jangkauan diler kendaraan itu sendiri.

Miskonsepsi Umum Soal Tunas Ridean yang Perlu Diluruskan

Ada beberapa kesalahpahaman yang cukup sering muncul kalau menelusuri informasi soal perusahaan ini dari sumber lama yang belum diperbarui.

Anggapan pertama, banyak yang masih mengira TURI adalah saham yang bisa dibeli di bursa hari ini. Padahal sejak 6 April 2023, status ini sudah tidak berlaku. Kalau menemukan situs atau aplikasi yang masih menampilkan data harga saham TURI seolah aktif diperdagangkan, itu tandanya sumber tersebut belum diperbarui atau menampilkan data historis.

Anggapan kedua, ada yang mengira Tunas Ridean adalah bagian langsung dari Astra International karena sering disandingkan sebagai “grup sejenis”. Faktanya keduanya adalah entitas terpisah dengan manajemen dan operasional masing-masing, yang kebetulan memiliki pemegang saham pengendali yang beririsan lewat Jardine Cycle & Carriage.

Anggapan ketiga, karena namanya Tunas Ridean, banyak yang mengira seluruh bisnis grup jalan di bawah satu badan hukum tunggal. Kenyataannya, seperti dijelaskan di bagian struktur bisnis di atas, setiap merek dan lini usaha punya entitas hukum sendiri-sendiri (PT Tunas Mobilindo Perkasa, PT Tunas Dwipa Matra, PT Surya Sudeco, dan seterusnya) yang berada di bawah payung holding PT Tunas Ridean.

Pertanyaan yang Sering Muncul

Apakah PT Tunas Ridean masih beroperasi sampai sekarang?

Ya, perusahaan tetap beroperasi penuh sebagai entitas tertutup (private company). Yang berubah hanya statusnya dari perusahaan terbuka menjadi tertutup, bukan kelangsungan bisnisnya.

Kenapa data laporan keuangan Tunas Ridean sulit ditemukan setelah 2023?

Karena kewajiban keterbukaan informasi ke publik hanya berlaku untuk perusahaan yang tercatat di bursa. Setelah delisting, Tunas Ridean tidak lagi wajib mempublikasikan laporan keuangan secara rutin ke publik.

Apa hubungan Tunas Ridean dengan Astra International?

Keduanya adalah perusahaan terpisah dan bersaing di sejumlah lini bisnis otomotif, namun sama-sama memiliki keterkaitan pemegang saham lewat Jardine Cycle & Carriage yang memegang saham signifikan di kedua perusahaan.