Profil PT Trimegah Karya Pratama Tbk (UVCR)

Admin KerjabosSelasa, 30 Juni 2026 | 07:50 WIB
Profil PT Trimegah Karya Pratama Tbk (UVCR)
Profil PT Trimegah Karya Pratama Tbk (UVCR)

PT Trimegah Karya Pratama Tbk adalah perusahaan teknologi Indonesia yang bergerak di industri voucher digital, gift card, serta solusi rewards dan loyalitas — lebih dikenal lewat merek utamanya, Ultra Voucher — dan telah tercatat di Bursa Efek Indonesia sejak 27 Juli 2021 dengan kode saham UVCR.

Tapi kalau berhenti di situ, gambarannya akan terasa datar. Perusahaan ini menarik justru karena ia sedang dalam proses transformasi: dari distributor voucher menjadi infrastruktur rewards bagi ratusan perusahaan di Indonesia.

Berdiri dari Kebutuhan yang Sederhana

Perusahaan didirikan secara resmi pada 7 Juli 2017, meski operasionalnya sudah berjalan sejak 2016. Ide awalnya sederhana: menyatukan berbagai voucher belanja dari berbagai merchant ke dalam satu aplikasi, sehingga pengguna tidak perlu menyimpan belasan voucher fisik dari brand berbeda.

Lewat aplikasi Ultra Voucher, pengguna bisa membeli, menyimpan, dan mengirimkan berbagai voucher fisik maupun digital — baik untuk dipakai sendiri maupun dikirimkan ke orang lain sebagai hadiah. Di permukaan ini terdengar seperti bisnis marketplace biasa. Yang membedakannya adalah posisi perusahaan: ia bukan sekadar perantara antara konsumen dan merchant, melainkan pihak yang mengelola seluruh ekosistem distribusi voucher itu.

Pada 27 Juli 2021, perusahaan resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Secara resmi, BEI mengklasifikasikan UVCR dalam sektor Teknologi, subsektor Perangkat Lunak & Jasa TI, dengan industri dan subindustri Aplikasi & Jasa Internet — sesuai dengan bidang usaha utama yang tercatat: Perdagangan Voucher Digital dan Jasa Teknologi.

Kantor pusatnya beralamat di Jl. Tebet Barat IX No. 35BB, Tebet Barat, Jakarta Selatan 12810. Informasi resmi perusahaan dapat diakses melalui situs www.ultravoucher.co.id, atau melalui email [email protected] dan telepon 021-22008385.

Dua Wajah Bisnis: B2C dan B2B

Cara paling mudah memahami UVCR adalah dengan melihat dua jalur bisnis utamanya — karena keduanya menyasar masalah yang berbeda, meski solusinya sama-sama voucher.

Ultra Voucher adalah wajah konsumennya. Lewat aplikasi ini, pengguna bisa mengakses voucher belanja dari lebih dari 600 merchant yang dapat digunakan di lebih dari 45.000 outlet di seluruh Indonesia. Bagi pengguna biasa, ini adalah cara berhemat saat belanja di restoran, supermarket, atau gerai kecantikan favorit mereka.

UBOS — Ultra Business Solution adalah wajah korporasinya, dan ini bagian yang lebih menarik secara bisnis. Melalui UBOS, perusahaan klien dapat mengelola sistem loyalitas pelanggan, mendistribusikan reward dalam bentuk voucher digital secara massal, hingga mengatur sistem hadiah internal untuk karyawan atau mitra bisnis.

Bayangkan sebuah bank yang ingin memberikan reward kepada 50.000 nasabah aktifnya setiap kuartal, atau perusahaan manufaktur yang ingin menjalankan program insentif untuk ribuan staf distribusinya serentak. Melakukannya secara manual adalah mimpi buruk logistik. UBOS hadir sebagai solusi infrastrukturnya.

Direktur UVCR Riky Boy H. Permata menggambarkan misi ini sebagai upaya membantu perusahaan membangun kultur apresiasi yang berkelanjutan serta memperkuat loyalitas stakeholder. Ini bukan klaim marketing semata — model bisnis B2B memang punya karakter stickiness yang tinggi. Ketika sebuah perusahaan sudah mengintegrasikan sistem UBOS ke dalam proses HR atau CRM mereka, biaya untuk beralih ke platform lain menjadi cukup besar.

Ultra Voucher Gift Card: Langkah Menuju Alat Bayar Universal

Inovasi terbaru yang sedang didorong perusahaan adalah Ultra Voucher Gift Card atau UVGC. Perusahaan memposisikan UVGC sebagai gift card universal dan inovatif satu-satunya di Indonesia, dengan fokus pada integrasi menyeluruh dengan sistem Electronic Data Capture (EDC) perbankan — salah satunya EDC BCA yang mulai diuji coba sejak akhir 2025.

Ini berbeda dari voucher digital biasa. Jika voucher digital hanya berlaku di merchant tertentu, gift card universal secara teori bisa digunakan di mana saja yang menerima EDC bank tersebut. Ambisi ini, kalau berhasil dieksekusi, akan menggeser posisi UVCR lebih dekat ke ranah alat pembayaran — bukan sekadar platform diskon.

Bagaimana Perusahaan Ini Menghasilkan Uang?

Model pendapatannya penting untuk dipahami, terutama bagi yang ingin melihat UVCR dari kacamata investasi.

Sederhananya: perusahaan membeli voucher dari merchant dengan harga tertentu, lalu menjualnya kembali ke konsumen atau perusahaan klien dengan harga yang sedikit lebih tinggi. Selisih itulah pendapatannya. Ini menjelaskan kenapa skala volume menjadi segalanya bagi bisnis ini.

Sepanjang 2025, voucher belanja menyumbang Rp915,4 miliar dari total pendapatan Rp982,2 miliar — sekitar 93,2% dari keseluruhan penjualan. Angka pendapatan yang hampir menyentuh satu triliun rupiah itu terdengar besar, tapi laba bersih yang dibukukan hanya Rp5,5 miliar — net profit margin di bawah 1%. Bukan karena bisnis ini tidak sehat, tapi memang begitu cara kerja bisnis distribusi dengan margin tipis: yang dihitung bukan berapa banyak yang tersisa per transaksi, tapi berapa banyak transaksi yang bisa dijalankan.

Total aset perusahaan per akhir 2025 tercatat Rp217 miliar, tumbuh 11,4% dari tahun sebelumnya, sementara total ekuitas menguat ke Rp103,6 miliar.

Yang menarik untuk dicermati adalah dari mana pertumbuhan laba berasal. Penghasilan lain-lain neto meningkat signifikan dari Rp8,9 miliar menjadi Rp15,2 miliar, ikut menopang laba sebelum pajak. Ini menunjukkan bahwa sebagian pertumbuhan laba bertumpu pada pos di luar operasi inti — sesuatu yang wajar terjadi, tapi perlu diperhatikan siapa pun yang ingin membaca keberlanjutan profitabilitasnya.

Siapa yang Mengelola Perusahaan Ini?

Setelah RUPST Mei 2026, susunan manajemen UVCR terdiri dari Hady Kuswanto sebagai Direktur Utama, Riky Boy H. Permata sebagai Direktur, Danny Eugene sebagai Komisaris Utama merangkap Komisaris Independen, serta Rangga Ananta Dana dan Adi Kiswoyo Joe sebagai Komisaris.

Hady Kuswanto aktif menjadi juru bicara strategis perusahaan, sementara Riky Boy H. Permata lebih sering tampil di forum bisnis dan paparan publik — termasuk memperkenalkan layanan UBOS ke berbagai segmen industri.

Posisi di Pasar dan Tantangan ke Depan

UVCR beroperasi di segmen yang tidak terlalu ramai di Indonesia: tidak banyak pemain yang mengerjakan distribusi voucher multimerek sekaligus menyediakan infrastruktur rewards korporasi dalam satu ekosistem. Perusahaan memposisikan diri sebagai penyedia ekosistem rewards terlengkap di Indonesia, melalui dua brand — Ultra Voucher untuk konsumen dan UBOS untuk bisnis.

Tapi tekanan kompetitif tetap ada, hanya datang dari arah berbeda. Di sisi konsumen, dompet digital besar seperti GoPay dan OVO juga menawarkan fitur cashback dan voucher sebagai bagian dari layanan mereka. UVCR memilih untuk tidak bersaing di medan itu secara frontal — diferensiasinya justru ada di kedalaman jaringan merchant dan kemampuan B2B, bukan di volume pengguna aplikasi.

Di sisi korporasi, tantangannya lebih pada edukasi pasar. Masih banyak perusahaan di Indonesia yang belum menyadari pentingnya program rewards dan loyalty sebagai bentuk retensi pelanggan maupun karyawan — ini sekaligus peluang besar, sekaligus berarti perusahaan perlu berinvestasi lebih banyak dalam penjualan dan edukasi sebelum pasar itu matang.

Margin yang tipis juga berarti perusahaan tidak punya banyak ruang untuk kesalahan operasional. Sebuah kuartal dengan tekanan biaya yang tidak terduga bisa langsung memukul profitabilitas secara tidak proporsional — seperti yang pernah terjadi di semester I-2025, ketika pendapatan tumbuh 22,18% secara tahunan, tapi laba justru tergerus 79,95%.

Itulah paradoks bisnis UVCR yang paling penting untuk dipahami: perusahaan bisa tumbuh besar dan tetap hampir tidak menghasilkan laba dalam periode tertentu, bukan karena ada yang salah, tapi karena begitulah dinamika bisnis distribusi margin-tipis bekerja. Pertumbuhan yang bermakna bagi perusahaan ini bukan hanya soal menambah revenue, tapi soal menambah efisiensi dan diversifikasi sumber pendapatan — khususnya dari segmen B2B yang secara struktural menawarkan nilai lebih per klien dibanding penjualan voucher eceran.

FAQ

Apakah Ultra Voucher dan UVCR itu sama?

Ya. Ultra Voucher adalah nama merek produk utama dari PT Trimegah Karya Pratama Tbk. Perusahaan juga menggunakan nama Ultra Corporation sebagai identitas korporat yang lebih luas, menaungi dua lini: Ultra Voucher (B2C) dan UBOS (B2B).

Di sektor apa UVCR terdaftar di BEI?

Secara resmi, BEI mengklasifikasikan UVCR dalam sektor Teknologi, subsektor Perangkat Lunak & Jasa TI, dengan subindustri Aplikasi & Jasa Internet.

Apakah UVCR cocok untuk investor pemula?

Ini pertanyaan yang jawabannya tidak bisa diberikan secara umum — bergantung pada profil risiko, tujuan investasi, dan pemahaman masing-masing individu terhadap model bisnis margin tipis. Yang perlu dipahami terlebih dahulu adalah karakteristik bisnisnya: volume tinggi, margin rendah, dan sensitif terhadap perubahan biaya. Konsultasikan dengan penasihat keuangan sebelum membuat keputusan.

Apakah layanan UBOS hanya untuk perusahaan besar?

Tidak secara eksklusif, meski segmen utamanya memang korporasi dan lembaga keuangan. Perusahaan juga secara aktif menjangkau pelaku UMKM sebagai bagian dari inisiatif literasi digital mereka.


Informasi kontak resmi: [email protected] | 021-22008385 | www.ultravoucher.co.id