Mitos tentang Menabung yang Membuat Uang Susah Terkumpul

kerjabosJumat, 6 Februari 2026 | 21:54 WIB
Mitos tentang Menabung yang Membuat Uang Susah Terkumpul
Mitos tentang Menabung yang Membuat Uang Susah Terkumpul

Kerjabos.com - Banyak dari kita yang ingin punya tabungan tebal, tapi entah kenapa uang selalu habis sebelum akhir bulan. Ternyata, salah satu penyebab utamanya adalah mitos-mitos lama seputar menabung yang masih dipercaya hingga sekarang.

Mitos ini sering membuat kita menunda atau bahkan menyerah sebelum mulai. Padahal, di era digital seperti sekarang, menabung bisa jauh lebih mudah dan efektif asal kita paham fakta di baliknya.

Mitos 1: Harus Punya Gaji Besar Baru Bisa Menabung

Salah kaprah paling umum adalah anggapan bahwa menabung hanya untuk orang berpenghasilan tinggi. Banyak yang berpikir, dengan gaji pas-pasan, buat apa menyisihkan uang kalau toh cuma sedikit. Akibatnya, tabungan nol terus dan uang terasa susah terkumpul.

Faktanya, menabung bukan soal jumlah besar di awal, melainkan konsistensi. Bahkan menyisihkan 50 ribu atau 100 ribu setiap bulan sudah bisa membangun kebiasaan baik.

Semakin dini dimulai, semakin besar dampaknya berkat efek compounding. Banyak orang sukses finansial justru memulai dari nominal kecil, lalu meningkat seiring waktu.

Mitos 2: Menabung Berarti Mengorbankan Semua Kesenangan Hidup

Banyak yang mengira menabung artinya hidup pelit, tidak boleh jajan, nongkrong, atau liburan. Pikiran ini membuat kita ogah mulai karena takut kehilangan quality time atau enjoyment.

Padahal, menabung yang benar justru memungkinkan kita menikmati hidup lebih tenang. Kamu bisa tetap alokasikan sebagian uang untuk hiburan, asal ada anggaran yang jelas.

Aturan sederhana seperti 50/30/20—50 persen kebutuhan, 30 persen keinginan, 20 persen tabungan—bisa jadi panduan agar tetap balance. Menabung bukan berhenti bersenang-senang, tapi memastikan kesenangan itu berkelanjutan.

Mitos 3: Bayar Utang Dulu Baru Mulai Menabung

Banyak orang menunda menabung karena masih punya cicilan atau utang. Mereka berpikir, lunasi dulu semua kewajiban baru sisihkan uang.

Realitanya, menabung dan melunasi utang bisa berjalan paralel. Sisihkan sebagian kecil untuk tabungan darurat sambil tetap prioritaskan pembayaran utang berbunga tinggi. Jika menunggu lunas total, bisa-bisa bertahun-tahun tidak ada tabungan sama sekali. Mulai kecil saja, seperti 5-10 persen dari penghasilan, sudah cukup untuk membangun fondasi.

Mitos 4: Menabung Hanya Berguna Jika Nominalnya Besar

Ada yang berpikir, kalau cuma nabung sedikit setiap bulan, buat apa? Toh tidak akan signifikan. Akibatnya, mereka menunggu momen punya uang banyak baru mulai.

Fakta menunjukkan sebaliknya: nominal kecil tapi rutin jauh lebih powerful daripada besar tapi sporadis. Dengan bunga tabungan atau instrumen investasi sederhana, uang kecil bisa berkembang signifikan dalam jangka panjang. Kuncinya adalah mulai sekarang, bukan menunggu jumlah ideal.

Mitos 5: Menabung Cukup Sisakan Uang Sisa Setelah Belanja

Banyak yang masih pakai pola habiskan dulu, sisanya tabung. Hasilnya? Seringkali tidak ada sisa, atau sangat minim.

Cara ini terbalik. Sisihkan tabungan dulu begitu gaji masuk—seperti bayar tagihan—baru gunakan sisanya untuk kebutuhan dan keinginan. Otomatisasi transfer ke rekening terpisah bisa membantu. Dengan begitu, tabungan jadi prioritas, bukan sisaan.

Mitos 6: Tidak Perlu Dana Darurat, Toh Ada Asuransi atau Keluarga

Beberapa orang menganggap dana darurat tidak penting karena ada jaring pengaman lain. Padahal, tanpa dana darurat, tabungan utama sering terkuras saat ada kejadian tak terduga seperti sakit atau perbaikan kendaraan.

Fakta terkini menekankan pentingnya dana darurat setara 3-6 bulan pengeluaran. Ini membuat kita lebih aman dan tidak perlu berutang saat darurat, sehingga tabungan tetap utuh untuk tujuan jangka panjang.

Menabung sebenarnya sederhana, tapi mitos-mitos ini sering menghalangi. Dengan membuang pemikiran keliru dan mulai dari langkah kecil yang konsisten, uang akan lebih mudah terkumpul.

Mulai hari ini, yuk ubah pola pikir dan ambil kendali atas keuangan kita bersama.